Rupiah Melemah ke Rp17.882 per Dolar AS, Tertekan Geopolitik Timur Ten
Rupiah melemah ke Rp17.882 per dolar AS pada Selasa, 2 Juni 2026. Ketegangan di Selat Hormuz dan data ekonomi AS jadi pemicu utama. Simak analisis lengkapnya di
Ilustrasi uang rupiah - Antara
Harianjogja.com, JAKARTA— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Pergerakan mata uang Garuda dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik, mulai dari perkembangan perundingan damai Amerika Serikat-Iran hingga kondisi neraca perdagangan Indonesia.
Berdasarkan data Doo Financial Futures, pada penutupan perdagangan Senin (3/8/2026) rupiah menguat 0,14% ke posisi Rp17.997 per dolar AS.
Pada waktu yang sama, indeks dolar Amerika Serikat (DXY) melemah 0,10% ke level 99,81.
Mayoritas Mata Uang Asia Menguat
Tidak hanya rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia juga mencatat penguatan terhadap dolar AS.
Penguatan terbesar dibukukan won Korea sebesar 0,72%, disusul peso Filipina yang naik 0,54%, dan yen Jepang sebesar 0,39%.
Sementara itu, mata uang lain yang turut menguat meliputi baht Thailand sebesar 0,27%, rupee India 0,09%, dolar Singapura 0,05%, yuan China 0,03%, serta dolar Hong Kong 0,01%.
Perundingan AS-Iran Jadi Sentimen Positif
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan penguatan rupiah pada perdagangan sebelumnya didorong sentimen eksternal setelah pelaku pasar merespons positif rencana perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan damai kedua negara dijadwalkan berlangsung pada Senin waktu setempat.
Dari dalam negeri, data ekonomi menunjukkan sinyal yang beragam terhadap pergerakan rupiah.
"Laju inflasi yang semakin terkendali dinilai memberikan ruang positif bagi stabilitas rupiah karena memperkuat ekspektasi terhadap kondisi fundamental ekonomi," ujar Lukman, Senin (3/8/2026).
Defisit Neraca Perdagangan Jadi Penahan Penguatan
Di sisi lain, sentimen positif tersebut masih dibayangi kembali terjadinya defisit neraca perdagangan Indonesia.
Menurut Lukman, kondisi tersebut mencerminkan tekanan pada sektor eksternal yang berpotensi membatasi ruang penguatan nilai tukar rupiah.
Untuk perdagangan hari ini, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat yang menjadi salah satu indikator aktivitas manufaktur sekaligus petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Lukman memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS sepanjang perdagangan Selasa (4/8/2026).
BI Fokus Menjaga Stabilitas Rupiah
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menegaskan tetap mengutamakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi dampak kebijakan moneter Amerika Serikat sekaligus perkembangan konflik geopolitik yang masih memengaruhi perekonomian global.
Penjabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti mengatakan keputusan The Fed mempertahankan suku bunga acuan menunjukkan pasar global masih menghadapi periode suku bunga tinggi, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, serta tekanan inflasi.
Menurutnya, kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia. Di sisi lain, konflik geopolitik yang belum mereda juga mengganggu rantai pasok logistik global dan menjaga harga minyak mentah tetap tinggi.
"Ekonomi global tersebut akan memengaruhi kebijakan ekonomi yang diambil oleh BI maupun Pemerintah. Kita harus tetap menjaga stabilitas karena konflik yang belum selesai mengganggu logistik dan membuat harga minyak tetap tinggi," kata Destry dalam Editors Briefing Bank Indonesia, Jumat (31/7/2026).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Polres Bantul menyita 1.053 pil sapi dari seorang pemuda di Pandes II, Pleret. Kasus ini terungkap berkat laporan masyarakat.
DIY mengalami deflasi 0,31% pada Juli 2026. BPS menyebut turunnya harga cabai, bawang, dan tomat menjadi penyebab utama.
BMKG memprakirakan cuaca Jogja cerah pada Selasa, 4 Agustus 2026. Simak prakiraan cuaca DIY dan kota-kota besar di Indonesia.
Rizky Ridho mengakui kesalahan fatal saat Indonesia kalah 0-3 dari Vietnam di Piala AFF 2026 dan bertekad bangkit menghadapi Singapura.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif cenderung melemah pada Selasa, 4 Agustus 2026. Simak faktor yang memengaruhinya.