Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah, Bisa ke Rp17.670 per Dolar AS

Newswire
Newswire Rabu, 09 September 2026 10:47 WIB
Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah, Bisa ke Rp17.670 per Dolar AS

Foto ilustrasi uang - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada perdagangan Selasa (8/9/2026), sebelum diproyeksikan kembali melemah pada perdagangan Rabu (9/9/2026).

Rupiah ditutup naik 8 poin atau 0,05% ke level Rp17.632 per dolar AS. Penguatan tersebut terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang ditutup bervariasi terhadap dolar AS.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu akan ditutup melemah di rentang Rp17.630-Rp17.670 per dolar AS.

Rupiah dan Mata Uang Asia

Pergerakan rupiah pada perdagangan sebelumnya berlangsung searah dengan sejumlah mata uang di kawasan Asia. Namun, tidak seluruh mata uang regional mampu mencatat penguatan terhadap dolar AS.

Yen Jepang ditutup menguat 0,22%, sementara dolar Hong Kong melemah 0,02%. Dolar Singapura juga turun 0,02%, sedangkan dolar Taiwan naik 0,10% dan won Korea menguat 0,06%.

Di sisi lain, yuan China melemah 0,02%, ringgit Malaysia turun 0,29%, dan baht Thailand melemah 0,26% terhadap dolar AS.

Pergerakan mata uang tersebut menunjukkan pasar masih mencermati sejumlah sentimen global, termasuk perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Pasar Tunggu Data Inflasi AS

Ibrahim mengatakan perhatian pelaku pasar masih tertuju pada perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, pasar juga menanti sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah kebijakan bank sentral AS atau The Fed.

Data Indeks Harga Produsen (PPI) AS dijadwalkan dirilis pada Kamis. Setelah itu, data Indeks Harga Konsumen (CPI) akan dirilis pada Jumat.

“Angka inflasi yang lebih tinggi akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” kata Ibrahim, Selasa (8/9/2026).

Menurut Ibrahim, pasar saat ini terus memperhitungkan peluang sekitar 60% bagi kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan. Perkiraan tersebut mencerminkan dampak laporan nonfarm payrolls AS yang kuat pada pekan lalu.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Data ekonomi AS dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed dapat memengaruhi sentimen pasar keuangan global.

Cadangan Devisa Indonesia Naik

Dari dalam negeri, kondisi cadangan devisa Indonesia turut menjadi perhatian. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa atau cadev Indonesia mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

Posisi tersebut meningkat dibandingkan cadangan devisa pada akhir Juli 2026 yang tercatat sebesar US$145,3 miliar.

Bank Indonesia menyebut peningkatan cadangan devisa terutama dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

Selain itu, kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan Bank Indonesia turut memengaruhi posisi cadangan devisa. Kebijakan tersebut ditempuh sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Dengan kondisi tersebut, pasar akan kembali mencermati arah pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Ibrahim memperkirakan rupiah akan ditutup melemah pada rentang Rp17.630 hingga Rp17.670 per dolar AS.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online