Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah ke Rp17.680

Annisa Kurniasari Saumi
Annisa Kurniasari Saumi Selasa, 08 September 2026 08:17 WIB
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah ke Rp17.680

Foto ilustrasi uang rupiah - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksi melemah pada perdagangan hari ini, Selasa (8/9/2026), dengan pergerakan diperkirakan berada di kisaran Rp17.640-Rp17.680 per dolar AS.

Pada perdagangan Senin (7/9/2026), rupiah ditutup menguat 2 poin atau 0,03% dan parkir di posisi Rp17.640 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,33 poin atau 0,33% ke level 98,8.

Mata Uang Asia Bergerak Bervariasi

Pergerakan mata uang di kawasan Asia terhadap dolar AS pada perdagangan sebelumnya berlangsung bervariasi.

Yen Jepang ditutup menguat 1,11%, dolar Hong Kong menguat 0,01%, dolar Singapura naik 0,09%, dolar Taiwan naik 0,29%, dan won Korea menguat 0,31%.

Di sisi lain, yuan China melemah 0,02%, ringgit Malaysia stagnan, sedangkan baht Thailand menguat 0,25% terhadap dolar AS.

Konflik Iran-AS Jadi Sentimen Rupiah

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu sentimen global yang memengaruhi pasar datang dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Militer AS menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu setelah pasukan Iran menargetkan kapal-kapal Angkatan Laut AS dengan rudal balistik.

Iran kemudian menyatakan telah menyerang sebuah pesawat nirawak atau drone angkatan laut AS. Teheran juga memperingatkan bahwa serangan lanjutan dari AS akan memicu respons yang lebih keras.

Pejabat tinggi keamanan Iran juga mengatakan Teheran akan menetapkan zona maritim terbatas yang baru di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.

Menurut laporan Press TV, kapal-kapal yang memasuki wilayah tersebut berpotensi menghadapi sanksi.

Selat Hormuz Berisiko Ganggu Arus Energi

Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa pelayaran komersial dan arus energi yang melewati Selat Hormuz dapat menghadapi gangguan lebih lanjut.

Sekitar seperlima dari konsumsi minyak global biasanya melewati selat tersebut.

Kondisi ini menjadi salah satu perhatian pasar karena gangguan pada jalur pelayaran dan energi dapat menambah tekanan terhadap perekonomian global.

Data Tenaga Kerja AS Lebih Kuat

Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perekonomian menyerap lebih banyak tenaga kerja daripada yang diperkirakan.

Lebih dari 162.000 warga Amerika masuk ke dalam angkatan kerja pada Agustus. Angka tersebut jauh di atas estimasi 56.000 dan melampaui laporan Juli yang direvisi naik dari -23.000 menjadi 21.000.

Laporan yang sama menunjukkan Tingkat Pengangguran berada di angka 4,1%. Angka tersebut berada di bawah estimasi pejabat The Fed sebesar 4,5% untuk akhir tahun.

Kebijakan Moneter Indonesia Jadi Ujian

Dari dalam negeri, pekan ini dinilai menjadi ujian bagi fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia.

Tantangannya bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan stimulus moneter tidak dibayar dengan volatilitas rupiah dan keluarnya modal asing.

Ibrahim melanjutkan, kekhawatiran pasar masih membayangi terkait bencana alam yang terjadi di dalam negeri.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat malam, 4 September hingga akhir pekan ini disebut menimbulkan dampak yang sangat masif di sektor penerbangan dan aktivitas masyarakat.

Karhutla dan Sungai Barito Tambah Risiko Ekonomi

Ibrahim menuturkan bencana alam yang terjadi secara serempak juga menambah kompleksitas risiko ekonomi domestik.

Kondisi tersebut termasuk pembakaran lahan gambut yang terjadi di Kalimantan dan sebagian wilayah Sumatra, serta mengeringnya Sungai Barito yang membuat transportasi batu bara terhenti.

Terbatasnya aktivitas transportasi tersebut turut menciptakan risiko terganggunya rantai pasok.

Dengan demikian, pergerakan rupiah hari ini tidak hanya dipengaruhi sentimen global seperti konflik Iran-AS dan kondisi Selat Hormuz, tetapi juga perkembangan ekonomi serta risiko domestik yang berpotensi memengaruhi aktivitas transportasi dan rantai pasok.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis