Harga Pertamax Dprediksi Sulit Turun hingga Akhir 2026, Ini Penyebabnya

Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika Jum'at, 04 September 2026 21:57 WIB
Harga Pertamax Dprediksi Sulit Turun hingga Akhir 2026, Ini Penyebabnya

Petugas SPBU hendak melayani pembelian Pertamax Green 95. - Antara

Harianjogja.com, JAKARTA—Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax diproyeksikan masih sulit turun hingga akhir 2026. Penurunan harga yang terjadi pada Agustus dinilai belum cukup menjadi tanda bahwa tren penurunan akan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.

Ekonom Energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti mengatakan pergerakan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama yang membuat ruang penurunan harga Pertamax terbatas. Kondisi nilai tukar rupiah juga ikut memengaruhi kemampuan badan usaha untuk menurunkan harga.

Harga Minyak Naik, Pertamax Sulit Turun

Harga Pertamax turun Rp300 per liter menjadi Rp15.950 per liter mulai 1 Agustus 2026. Namun, harga tersebut ditetapkan dengan menggunakan rata-rata harga minyak pada Juli yang berada di level US$83,76 per barel.

Kondisinya berubah pada Agustus. Harga minyak sepanjang bulan tersebut justru meningkat menjadi sekitar US$91,15 per barel sehingga biaya perolehan BBM untuk penetapan harga September naik Rp709 per liter atau sekitar 6,5%.

Menurut Yayan, kondisi tersebut membuat penurunan Pertamax pada Agustus kemungkinan belum diikuti penurunan lanjutan.

"Penurunan Agustus kemungkinan besar berhenti di situ. Skenario paling mungkin untuk September–Oktober adalah harga bertahan, bukan turun lagi," kata Yayan kepada Bisnis, dikutip Jumat (4/9/2026).

Tiga Faktor Penentu Harga Pertamax

Yayan menjelaskan terdapat tiga komponen utama yang memengaruhi harga BBM nonsubsidi. Ketiganya adalah harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, dan margin badan usaha.

Sementara itu, pajak seperti PPN 11% dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) 5% merupakan komponen dengan tarif tetap.

Kenaikan harga minyak dunia dan tekanan terhadap rupiah dengan demikian dapat membatasi ruang badan usaha untuk kembali menurunkan harga Pertamax.

Meski demikian, Yayan menyebut peluang penurunan harga Pertamax hingga akhir tahun sebenarnya masih ada. Hanya saja, ruang tersebut relatif terbatas dan sangat bergantung pada pergerakan sejumlah faktor utama.

Ada Ruang Penurunan, tetapi Terbatas

Jika margin badan usaha kembali ke level normal sebelum terjadi gejolak harga minyak, terdapat ruang penurunan sekitar Rp682 per liter. Sementara itu, apabila harga minyak turun dari US$91 menjadi US$85 per barel, terdapat tambahan ruang sekitar Rp801 per liter.

Penguatan rupiah juga berpotensi memberikan ruang penurunan harga. Jika nilai tukar menguat dari Rp17.850 menjadi Rp17.200 per dolar AS, ruang penurunan yang berpotensi muncul sekitar Rp489 per liter.

Secara teoritis, ketiga faktor tersebut apabila terjadi secara bersamaan dapat menghasilkan ruang penurunan sekitar Rp1.972 per liter. Namun, skenario tersebut dinilai bukan sebagai kondisi yang paling realistis.

Skenario yang lebih realistis hanya menghasilkan ruang penurunan sekitar Rp1.482 per liter.

Pertamax Diproyeksi Turun Rp1.500 per Liter

Berdasarkan kondisi tersebut, Yayan memperkirakan harga Pertamax dalam skenario paling realistis masih memiliki peluang turun hingga akhir 2026. Penurunannya diperkirakan sekitar Rp1.500 per liter.

Dengan proyeksi tersebut, harga Pertamax yang saat ini berada di Rp15.950 per liter diperkirakan dapat turun menjadi sekitar Rp14.500 per liter hingga akhir 2026.

Artinya, meskipun masih terdapat ruang penurunan harga Pertamax, pergerakan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta margin badan usaha menjadi faktor penting yang menentukan seberapa besar penurunan tersebut dapat terjadi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online