Kuota Pertalite 2026 Berisiko Jebol, Bahlil Pastikan Harga Tak Naik

Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika Senin, 31 Agustus 2026 22:27 WIB
Kuota Pertalite 2026 Berisiko Jebol, Bahlil Pastikan Harga Tak Naik

Petugas SPBU hendak melayani pembelian Pertamax Green 95. - Antara

Harianjogja.com, JAKARTA— Konsumsi BBM bersubsidi Pertalite pada 2026 berisiko melampaui kuota yang telah ditetapkan pemerintah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah masih menghitung potensi kelebihan konsumsi tersebut, tetapi memastikan harga BBM subsidi tidak akan dinaikkan hingga Desember 2026.

Risiko kuota Pertalite jebol terjadi ketika konsumsi BBM RON 90 tersebut meningkat. Salah satu pemicunya adalah kenaikan harga BBM dunia yang membuat sebagian konsumen yang sebelumnya menggunakan BBM RON 92 beralih ke Pertalite.

“Memang ketika terjadi kenaikan harga BBM dunia itu ada sebagian (konsumen pengguna BBM) RON 92 masuk untuk mengisi ke RON 90, sehingga terjadi kenaikan. Tapi kenaikannya kita lagi menghitung,” kata Bahlil saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Senin (31/8/2026).

Konsumsi Pertalite Diproyeksikan Lewati Kuota

Pemerintah kini masih menghitung secara lebih rinci potensi kelebihan penyaluran Pertalite hingga akhir 2026. Besaran tersebut belum final karena konsumsi BBM masih terus bergerak mengikuti perkembangan kondisi pasar dan penggunaan masyarakat.

Sebelumnya, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) menyampaikan bahwa konsumsi Pertalite pada tahun ini berisiko melampaui kuota. Dalam paparannya, kuota Pertalite untuk 2026 ditetapkan sebesar 28,69 juta kiloliter (KL).

Sementara itu, prognosa konsumsi Pertalite hingga akhir 2026 diperkirakan mencapai 29,18 juta KL. Dengan demikian, terdapat potensi kelebihan konsumsi sekitar 490.000 KL atau 1,7% dibandingkan kuota yang ditetapkan.

"Dengan tren konsumsi saat ini, prognosa kami hingga akhir tahun menunjukkan potensi penyaluran di atas kuota dan tentunya data ini akan terus bergerak dan kami terus berkolaborasi dengan Kepala BPH Migas dan jajarannya," jelas Oki.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena peningkatan konsumsi Pertalite dapat mendorong penyaluran BBM bersubsidi melampaui batas kuota yang telah ditentukan untuk 2026.

Harga BBM Subsidi Dipastikan Tidak Naik

Meski terdapat risiko kelebihan kuota, pemerintah memastikan harga BBM subsidi, termasuk Pertalite, tidak akan dinaikkan sampai penghujung 2026.

Bahlil mengatakan pemerintah akan tetap memantau perkembangan harga minyak dunia sebelum mengambil kebijakan lebih lanjut. Namun, untuk BBM subsidi, pemerintah tidak berencana menaikkan harga hingga Desember tahun ini.

“Tapi apapun yang terjadi saya menyampaikan bahwa harga minyak atau harga BBM subsidi, khususnya subsidi, itu tidak akan kita naikkan. Sampai dengan 2026 Desember sambil kita melihat perkembangan global,” ujarnya.

Kebijakan harga tersebut berbeda dengan BBM nonsubsidi. Harga BBM nonsubsidi akan tetap mengikuti mekanisme pasar dan disesuaikan dengan dinamika harga pasar serta perkembangan harga minyak dunia.

Pemerintah Kaji Pembatasan Pertalite

Selain menghitung potensi kelebihan kuota, pemerintah juga masih mengkaji pembatasan Pertalite berdasarkan kelompok desil penerima manfaat. Skema tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah agar subsidi energi dapat diterima masyarakat yang dinilai tepat sasaran.

Namun, penerapan pembatasan berbasis desil belum diputuskan. Pemerintah masih memastikan validitas data penerima manfaat sebelum skema tersebut diterapkan.

Bahlil mengatakan pengecekan data desil masih terus dilakukan. Pemerintah tidak ingin penerapan pembatasan subsidi justru menimbulkan persoalan baru akibat data penerima yang belum akurat.

“Nah desilnya ini yang kita lagi cek terus, jangan sampai nanti implementasinya karena datanya yang tidak valid membuat sesuatu yang tidak sesuai harapan kita,” katanya.

Menurut Bahlil, persoalan utama yang tengah dihitung bukan hanya besaran konsumsi Pertalite, tetapi juga bagaimana kebijakan subsidi dapat diterapkan secara tepat berdasarkan data penerima manfaat.

Konsumsi RON 92 Beralih ke Pertalite

Peningkatan konsumsi Pertalite tidak terlepas dari perubahan pilihan konsumen ketika harga BBM dunia mengalami kenaikan. Sebagian pengguna BBM RON 92 disebut beralih menggunakan BBM RON 90 atau Pertalite.

Perubahan pola konsumsi tersebut kemudian ikut meningkatkan kebutuhan terhadap Pertalite. Pemerintah masih menghitung seberapa besar pengaruh perpindahan konsumen tersebut terhadap potensi kelebihan kuota pada tahun ini.

Di sisi lain, pemerintah tetap memantau perkembangan penyaluran BBM subsidi. Penghitungan dilakukan untuk mengetahui besaran konsumsi secara lebih akurat hingga akhir 2026.

Bahlil menegaskan pemerintah akan melihat perkembangan global sembari memastikan harga BBM subsidi tetap tidak dinaikkan hingga Desember 2026.

Dengan kuota Pertalite 2026 sebesar 28,69 juta KL dan prognosa konsumsi 29,18 juta KL, terdapat potensi disparitas sekitar 490.000 KL. Pemerintah masih menghitung perkembangan konsumsi tersebut sekaligus mengkaji skema pembatasan berdasarkan desil penerima manfaat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online