Harga Pertamax Turun, Migrasi ke Pertalite Masih Sulit Dibendung

Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika Selasa, 04 Agustus 2026 11:47 WIB
Harga Pertamax Turun, Migrasi ke Pertalite Masih Sulit Dibendung

Ilustrasi BBM/Ist. dok. Pertamina Patra Niaga

Harianjogja.com, JAKARTA—Penurunan harga Pertamax dan sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai Agustus 2026 dinilai belum cukup kuat mengubah pola konsumsi masyarakat. Meski harga Pertamax turun Rp300 per liter, selisih harga dengan Pertalite yang masih mendekati Rp6.000 per liter dianggap tetap memberikan insentif ekonomi lebih besar bagi konsumen untuk memilih BBM bersubsidi.

Kondisi tersebut dinilai membuat risiko perpindahan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke Pertalite masih tinggi, meskipun PT Pertamina Patra Niaga telah melakukan penyesuaian harga mengikuti perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.

Pertamax dan Pertamax Turbo Turun Harga

PT Pertamina Patra Niaga kembali menyesuaikan harga BBM nonsubsidi yang berlaku mulai 1 Agustus 2026.

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan harga Pertamax (RON 92) turun Rp300 per liter menjadi Rp15.950 per liter dari sebelumnya Rp16.250 per liter.

Penurunan juga berlaku untuk Pertamax Turbo yang turun Rp1.000 per liter dari Rp19.300 menjadi Rp18.300 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 turun Rp400 per liter dari Rp17.000 menjadi Rp16.600 per liter.

Di sisi lain, harga Pertamina Dex tetap Rp21.150 per liter dan Dexlite dipertahankan di Rp19.700 per liter. Harga tersebut berlaku di wilayah dengan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) sebesar 5 persen, termasuk DKI Jakarta.

Kitty mengatakan penyesuaian harga dilakukan sesuai ketentuan dan arahan pemerintah dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta daya beli masyarakat.

"Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan mengikuti ketentuan dan arahan pemerintah dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta tetap memperhatikan daya beli masyarakat. Langkah ini juga merupakan bagian dari upaya menjaga ketersediaan pasokan BBM nasional agar tetap terjamin bagi masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi perusahaan, dikutip Minggu (2/8/2026).

Menurutnya, Pertamina Patra Niaga tetap berkomitmen menyediakan energi berkualitas sekaligus menjaga keandalan pasokan BBM di seluruh Indonesia.

Di tengah penyesuaian harga tersebut, pola konsumsi BBM masyarakat telah bergeser ke produk bersubsidi sejak kenaikan harga BBM nonsubsidi pada pertengahan April 2026.

Direktur Pemasaran Regional Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI mengungkapkan konsumsi Pertalite dan Biosolar meningkat setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 18 April 2026.

Pada Juli 2026, konsumsi kedua produk BBM subsidi itu tercatat naik sekitar 9,4 persen.

"Sejak Pertamina melakukan penyesuaian harga khususnya BBM JBU [nonsubsidi] per 18 April yang lalu, telah terjadi perubahan perilaku konsumen untuk konsumsi BBM yang saat ini terjadi peningkatan konsumsi BBM khususnya produk BBM PSO [subsidi], baik itu Pertalite maupun Biosolar," ujarnya.

Menurut Eko, perubahan paling terlihat terjadi pada konsumsi bensin. Pada periode Januari–Mei 2026, Pertalite menguasai 75,4 persen dari total konsumsi bensin. Kini porsinya meningkat menjadi sekitar 80,5 persen.

Di sisi lain, penjualan Pertamax Series turun sekitar 18 persen dibandingkan periode sebelum penyesuaian harga.

Selisih Harga Masih Terlalu Lebar

Ekonom Energi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai penurunan harga Pertamax sebesar Rp300 per liter belum cukup kuat membalikkan tren perpindahan konsumen ke BBM subsidi.

Menurutnya, penyesuaian tersebut hanya memperkecil selisih harga Pertamax dan Pertalite dari Rp6.250 menjadi Rp5.950 per liter. Jarak harga itu masih sekitar 60 persen atau jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum kenaikan harga pada Juni.

"Selama selisihnya masih sekitar Rp6.000, migrasi ke Pertalite akan terus berjalan. Penurunan Rp300 menghentikan pelebaran jurang, tetapi tidak menutupnya," kata Yayan kepada Bisnis, Minggu (2/8/2026).

Yayan menjelaskan keuntungan ekonomi menggunakan Pertalite masih jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang diperoleh dari turunnya harga Pertamax.

Berdasarkan perhitungannya, pengendara sepeda motor yang mengonsumsi sekitar tiga liter BBM per minggu hanya memperoleh penghematan sekitar Rp900 akibat penurunan harga Pertamax.

Sebaliknya, tetap menggunakan Pertalite menghasilkan penghematan sekitar Rp17.850 dibandingkan membeli Pertamax.

Menurutnya, agar migrasi ke BBM nonsubsidi kembali menarik, selisih harga ideal berada di kisaran Rp2.000 hingga Rp2.500 per liter atau sekitar 20 hingga 25 persen, setara kondisi sebelum kenaikan harga pada Juni.

Ia menambahkan, penyesuaian menuju selisih tersebut tidak dapat hanya mengandalkan penurunan harga Pertamax, melainkan membutuhkan penyesuaian bertahap dari kedua sisi.

Selain faktor harga, Yayan menilai waktu antre di stasiun pengisian bahan bakar juga memengaruhi keputusan masyarakat dalam memilih BBM.

Menurutnya, biaya waktu akibat mengantre dapat mencapai Rp15.000 hingga Rp40.000 per jam. Dengan demikian, antre selama 30 menit saja dinilai sudah dapat menghapus manfaat penghematan yang diperoleh dari penggunaan Pertalite.

"Kelangkaan mendorong orang pindah ke Pertamax jauh lebih kuat daripada diskon Rp300," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online