Rupiah Menguat ke Rp18.068 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Newswire
Newswire Rabu, 15 Juli 2026 16:57 WIB
Rupiah Menguat ke Rp18.068 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Dolar Amerika Serikat - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Rabu sore di zona hijau setelah menguat 23 poin atau 0,13 persen. Mata uang Garuda ditutup di level Rp18.068 per dolar Amerika Serikat (AS), membaik dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di Rp18.091 per dolar AS. Penguatan ini didorong oleh melambatnya inflasi di Amerika Serikat yang mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Selain dipengaruhi sentimen global, pergerakan rupiah turut mendapat dukungan dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan prospek stabil. Namun, penguatan mata uang domestik masih dibatasi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia.

Inflasi AS Jadi Penopang Penguatan Rupiah

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed menjadi faktor utama yang mengangkat nilai tukar rupiah.

“Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS, didukung oleh data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan memicu menurunnya ekspektasi pada The Fed untuk menaikkan suku bunga,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Mengutip Anadolu, inflasi konsumen tahunan Amerika Serikat tercatat melambat menjadi 3,5 persen pada Juni 2026. Angka tersebut berada di bawah perkiraan pasar setelah penurunan tajam harga energi memicu kontraksi bulanan terbesar sejak April 2020.

Secara tahunan, inflasi AS turun dari 4,2 persen pada Mei 2026 menjadi 3,5 persen pada Juni 2026.

Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Berkurang

Data inflasi yang lebih rendah turut memengaruhi proyeksi kebijakan suku bunga Federal Reserve sepanjang tahun ini.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat tercatat turun 0,4 persen pada Juni dibandingkan bulan sebelumnya, setelah pada Mei masih naik 0,5 persen. Sementara itu, inflasi inti tidak berubah secara bulanan dan melambat menjadi 2,6 persen secara tahunan dari sebelumnya 2,9 persen.

Perkembangan tersebut membuat proyeksi terbaru menunjukkan sembilan pejabat Federal Reserve memperkirakan masih akan ada satu kali kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin hingga akhir tahun. Di sisi lain, sembilan pejabat lainnya memperkirakan suku bunga tetap atau bahkan mengalami penurunan.

Peringkat Kredit Indonesia Turut Menopang

Selain sentimen dari Amerika Serikat, rupiah juga memperoleh dukungan dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.

Meski demikian, Lukman menilai penguatan rupiah belum sepenuhnya lepas dari tekanan eksternal.

“Penguatan terbatasi oleh memanasnya geopolitik di Timteng (Timur Tengah) dan naiknya harga minyak dunia,” ujar dia.

JISDOR Bank Indonesia Ikut Menguat

Pergerakan positif rupiah juga tercermin pada kurs referensi Bank Indonesia.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu menguat ke posisi Rp18.064 per dolar AS, dibandingkan level sebelumnya sebesar Rp18.099 per dolar AS.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online