Jangan Tunggu Rusak, Ini 7 Tanda Laptop Perlu Diganti
Kenali 7 tanda laptop mulai ketinggalan teknologi, dari performa lambat, baterai boros hingga tak mendapat pembaruan keamanan. Kapan harus ganti?
Ilustrasi rupiah. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih ditutup melemah pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Meski demikian, tekanan terhadap mata uang Garuda berangsur berkurang dibandingkan dengan kondisi saat awal perdagangan berlangsung.
Data Refinitiv menunjukkan rupiah ditutup pada level Rp17.890 per dolar AS atau terdepresiasi 0,08%. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan saat pembukaan perdagangan ketika rupiah sempat tertekan 0,20% hingga menyentuh level Rp17.910 per dolar AS.
Pergerakan rupiah sepanjang hari berlangsung cukup dinamis. Mata uang Garuda bergerak dalam rentang Rp17.875 hingga Rp17.928 per dolar AS sebelum akhirnya mengakhiri perdagangan di level Rp17.890 per dolar AS.
Rentang pergerakan tersebut menunjukkan aktivitas pasar yang masih tinggi seiring respons pelaku pasar terhadap berbagai perkembangan ekonomi dan geopolitik yang menjadi perhatian investor.
Di sisi lain, indeks dolar Amerika Serikat atau US Dollar Index (DXY) justru mengalami pelemahan.
Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar tercatat berada di level 101,069 atau turun 0,06%. Sebelumnya, pada perdagangan sehari sebelumnya, DXY juga ditutup melemah ke posisi 101,125.
Pelemahan indeks dolar biasanya menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Namun pada perdagangan kali ini, sejumlah sentimen lain masih memengaruhi pergerakan pasar domestik.
Pelaku pasar masih mencermati respons terhadap keputusan kebijakan moneter yang telah diumumkan Bank Indonesia (BI).
Selain faktor domestik, perhatian investor juga tertuju pada perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih menjadi salah satu sumber ketidakpastian di pasar global.
Situasi geopolitik tersebut turut memengaruhi pergerakan aset keuangan dunia karena investor cenderung memantau perkembangan risiko yang dapat berdampak terhadap stabilitas ekonomi global.
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian pelaku usaha yang memiliki kebutuhan transaksi berbasis dolar AS, mulai dari importir, eksportir, hingga sektor industri yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
Pergerakan nilai tukar rupiah turut menjadi salah satu indikator yang dipantau karena dapat memengaruhi biaya transaksi internasional dan aktivitas perdagangan lintas negara.
Sementara itu, perkembangan kebijakan moneter global dan arah pergerakan dolar AS masih menjadi faktor yang akan terus diperhatikan pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan, bersamaan dengan perkembangan situasi geopolitik yang masih berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kenali 7 tanda laptop mulai ketinggalan teknologi, dari performa lambat, baterai boros hingga tak mendapat pembaruan keamanan. Kapan harus ganti?
Polda Metro Jaya menyelidiki kematian ABK tongkang OB AS Power 7 yang ditemukan tewas di perairan Marunda setelah diduga jatuh ke laut.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto meminta PTN mendirikan UPZ untuk mengoptimalkan zakat sebagai sumber bantuan pendanaan mahasiswa.
BNPB memfokuskan verifikasi 98.986 rumah rusak pascagempa Flores, sementara distribusi logistik telah mencapai 98,39 persen.
Jasa Marga telah menyerap capex Rp4,4 triliun hingga semester I/2026. Simak progres Tol Jogja-Bawen dan Jogja-Solo.
Imigrasi Semarang mendeportasi dua WN China yang terjaring operasi pengawasan di KIK. Sebanyak 505 WNA diperiksa legalitasnya.