Rupiah Diproyeksikan Menguat pada Senin, Simak Penyebabnya

Ibad Durrohman
Ibad Durrohman Senin, 03 Agustus 2026 09:17 WIB
Rupiah Diproyeksikan Menguat pada Senin, Simak Penyebabnya

Ilustrasi uang rupiah - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat pada perdagangan Senin (3/8/2026). Proyeksi tersebut didorong meningkatnya ekspektasi pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam beberapa bulan mendatang.

Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen global dan domestik, mulai dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah hingga proses suksesi kepemimpinan Bank Indonesia (BI) yang dinilai berpengaruh terhadap pergerakan mata uang Garuda.

Rupiah Ditutup Menguat pada Akhir Pekan

Berdasarkan data Doo Financial Futures, pada penutupan perdagangan Jumat (31/7/2026), rupiah menguat 0,49% ke posisi Rp18.022 per dolar AS.

Pada saat yang sama, indeks dolar Amerika Serikat (DXY) melemah 0,06% ke level 99,80.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga menguat terhadap dolar AS.

"Rupiah dan mata uang regional umumnya menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi cukup tajam oleh data ekonomi yang mengecewakan," ujar Lukman.

Menurutnya, pelemahan dolar dipicu oleh serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi sehingga meningkatkan peluang pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed.

Geopolitik dan Suksesi BI Masih Jadi Perhatian

Meski rupiah berpeluang menguat, Lukman menilai pasar masih dibayangi berbagai ketidakpastian global.

Selain menunggu arah kebijakan suku bunga The Fed, investor juga terus mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memicu volatilitas harga energi sekaligus meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar masih tertuju pada proses suksesi kepemimpinan Bank Indonesia.

Investor terus mengamati sosok yang akan mengisi jabatan Gubernur BI berikutnya karena kebijakan bank sentral dinilai memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi.

Data Ekonomi Akan Pengaruhi Pergerakan Rupiah

Lukman memperkirakan volatilitas rupiah berpotensi meningkat sepanjang pekan ini seiring padatnya agenda rilis data ekonomi dari Indonesia, Amerika Serikat, dan China.

Dari Amerika Serikat, pelaku pasar akan menunggu rilis data aktivitas manufaktur dan jasa, laporan lowongan kerja JOLTS, serta data ketenagakerjaan nonfarm payrolls (NFP) yang menjadi salah satu indikator utama kondisi ekonomi negara tersebut.

Sementara itu, dari China, investor akan mencermati data manufaktur dan sektor jasa untuk mengukur kekuatan pemulihan ekonomi negara itu.

Adapun dari dalam negeri, pasar menantikan publikasi data neraca perdagangan, inflasi, indeks manufaktur, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II/2026.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Lukman memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat pada kisaran Rp17.850 hingga Rp18.150 per dolar AS pada perdagangan Senin (3/8/2026).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis