Rupiah Menguat ke Rp17.632, Pasar Pantau Geopolitik

Annisa Kurniasari Saumi
Annisa Kurniasari Saumi Selasa, 08 September 2026 16:17 WIB
Rupiah Menguat ke Rp17.632, Pasar Pantau Geopolitik

Ilustrasi rupiah. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan Selasa (8/9/2026) dengan penguatan terhadap dolar AS. Rupiah ditutup di level Rp17.632 per dolar AS, meski pasar masih menghadapi ketidakpastian dari perkembangan geopolitik dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Berdasarkan perdagangan hari ini, rupiah menguat 8 poin atau 0,05% dibandingkan posisi sebelumnya. Penguatan tersebut sejalan dengan sejumlah mata uang Asia yang juga bergerak positif terhadap dolar AS.

Di kawasan Asia, yen Jepang tercatat menguat 0,22%, dolar Taiwan naik 0,10%, dan won Korea Selatan menguat 0,06%. Sementara itu, dolar Hong Kong melemah 0,02%, dolar Singapura turun 0,02%, yuan China melemah 0,02%, ringgit Malaysia turun 0,29%, dan baht Thailand melemah 0,26%.

Geopolitik Jadi Perhatian Pasar

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah. Situasi tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam menentukan arah perdagangan mata uang.

Selain perkembangan geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.

Data Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat dijadwalkan terbit pada Kamis. Setelah itu, pasar akan mendapatkan data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) pada Jumat.

“Angka inflasi yang lebih tinggi akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” kata Ibrahim, Selasa (8/9/2026).

Data inflasi tersebut menjadi penting karena dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS. Pasar saat ini juga memperhitungkan peluang sekitar 60% terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan.

Pasar Perhitungkan Kebijakan The Fed

Ibrahim mengatakan ekspektasi tersebut turut mencerminkan dampak dari laporan nonfarm payrolls Amerika Serikat yang menunjukkan hasil kuat pada pekan lalu.

Jika tekanan inflasi kembali terlihat dari data terbaru, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed dapat semakin menguat. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS sekaligus mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.

Karena itu, pelaku pasar akan mencermati data PPI dan CPI AS sebagai indikator penting untuk membaca kemungkinan langkah The Fed dalam pertemuan mendatang.

Di sisi lain, faktor domestik memberikan sentimen positif bagi rupiah. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia meningkat pada akhir Agustus 2026.

Cadangan Devisa Indonesia Naik

Posisi cadangan devisa Indonesia mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi akhir Juli 2026 yang tercatat sebesar US$145,3 miliar.

Bank Indonesia menyebut kenaikan cadangan devisa terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

Selain faktor tersebut, peningkatan cadangan devisa juga berkaitan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan Bank Indonesia untuk merespons ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Kondisi cadangan devisa yang meningkat menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam melihat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Perkembangan tersebut berlangsung ketika pasar global masih menghadapi berbagai risiko, termasuk arah kebijakan moneter AS dan ketegangan geopolitik.

Rupiah Diproyeksikan Melemah Besok

Meski rupiah berhasil menguat pada perdagangan Selasa, Ibrahim memperkirakan mata uang Garuda berpotensi kembali melemah pada perdagangan berikutnya.

Untuk perdagangan Rabu (9/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak dalam tekanan di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan eksternal.

Ia memperkirakan rupiah akan ditutup pada rentang Rp17.630-Rp17.670 per dolar AS.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, posisi cadangan devisa menjadi salah satu faktor pendukung, sementara dari eksternal pasar masih menunggu data ekonomi AS serta mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis