Daftar Mobil Baru GIIAS 2026, dari SUV Hybrid hingga Mobil Listrik
GIIAS 2026 menghadirkan puluhan mobil baru dari berbagai merek. Simak daftar 10 mobil paling menarik, mulai Suzuki XL7 terbaru hingga Mazda 6e dan Toyota Land C
Petugas Perum Bulog Kantor Cabang Banyumas mengecek stok beras di Kompleks Pergudangan Cindaga, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin (31/8/2026). ANTARA/HO-Bulog Banyumas\r\n
Harianjogja.com, JAKARTA— Perum Bulog menyiapkan skema hilirisasi untuk sekitar 380.000 ton beras turun mutu yang telah tersimpan lebih dari 10 bulan. Beras tersebut akan dilelang untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku tepung beras guna mencegah kerusakan stok yang berpotensi menimbulkan kerugian negara.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan beras dengan kondisi tersebut telah mendapat persetujuan untuk dialihkan pemanfaatannya menjadi bahan baku industri tepung beras.
Langkah itu juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan industri terhadap impor beras pecah yang selama ini digunakan sebagai salah satu bahan baku pembuatan tepung.
“Yang disetujui hanya pengalihan beras turun mutu yang 380.000 ton itu dijadikan beras hilirisasi yaitu menjadi tepung beras,” kata Rizal saat ditemui di Kantor Perum Bulog, Jakarta Selatan, Senin (7/9/2026).
Beras Disimpan Lebih dari 10 Bulan
Rizal menjelaskan Bulog dalam skema tersebut tidak mengolah langsung beras menjadi tepung. Peran Bulog adalah menyediakan bahan baku berupa beras yang memenuhi kriteria untuk kemudian dimanfaatkan oleh industri.
Beras yang dialihkan merupakan stok dengan usia simpan lebih dari 10 bulan. Menurut Rizal, beras tersebut masih sesuai untuk diolah menjadi tepung beras karena memenuhi persyaratan kandungan amilosa.
Dengan skema hilirisasi tersebut, beras yang mengalami penurunan kualitas tidak harus berakhir sebagai stok rusak atau tidak termanfaatkan. Komoditas itu dapat kembali masuk ke rantai produksi pangan melalui industri pengolahan tepung beras.
Saat ini, stok beras yang dikuasai Bulog mencapai sekitar 4,8 juta ton. Setelah sebanyak 380.000 ton dialihkan untuk kebutuhan hilirisasi, stok diproyeksikan menjadi sekitar 4,5 juta ton.
“Sekarang 4,8 [juta ton] hari ini. Nanti kalau dikurangi 380.000 ton berarti 4,5 [juta ton]. Nanti dikurangi lagi beras 1 juta [ton tambahan SPHP] berarti 3,5 [juta ton],” terangnya.
Beras Turun Mutu Bakal Terus Dialihkan
Menurut Rizal, potensi penurunan mutu beras akan selalu ada seiring semakin panjangnya masa penyimpanan. Karena itu, diperlukan mekanisme yang dapat mengantisipasi stok beras ketika memasuki usia simpan yang lebih lama.
“Ya namanya disimpan kan pasti bertahap. Ada. Nanti kan untuk proses tahun depannya lagi,” ujarnya.
Ia mengatakan beras yang kembali mengalami penurunan mutu pada masa mendatang juga diharapkan dapat dialihkan untuk kebutuhan industri tepung beras.
“Harapannya seperti itu [hilirisasi menjadi tepung beras]. Karena daripada berasnya rusak, jadi kerugian negara lebih bagus dialihkan menjadi tepung beras,” imbuhnya.
Dalam pelaksanaannya, Bulog akan menyiapkan bahan baku berupa beras yang memenuhi kriteria. Bahan baku tersebut kemudian dilelang melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).
Harga minimum yang ditetapkan dalam lelang tersebut sebesar Rp11.000 per kilogram.
Skema tersebut tidak hanya terbuka bagi perusahaan berskala besar. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga dapat menjadi pembeli sepanjang mempunyai fasilitas produksi yang memenuhi kebutuhan pengolahan tepung beras.
Stok Bulog Tinggi dalam Dua Tahun
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan tingginya stok beras yang dikuasai Bulog dalam dua tahun terakhir menjadi salah satu faktor munculnya beras dengan kondisi mutu yang menurun.
Menurut dia, stok Bulog saat ini berada pada level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Sebagian stok yang telah tersimpan lama kemudian dinilai dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri tepung.
“Kebutuhan tepung itu sebetulnya dari beras pecah. Nah, karena kita 2 tahun stok kita ini kan paling tinggi, belum pernah Bulog punya stok setinggi ini. Tahun lalu 5 juta [ton] lebih, tahun ini 5 juta [ton] lebih ya. Tentu ada yang karena sudah 2 tahun, tentu ada yang kurang mutu. Nah, yang kurang mutu itu kira-kira 300.000 [380.000 ton] ini kita tadi boleh dilelang minimal harganya Rp11.000 [per kilogram],” terang Zulhas dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2026).
Beras yang mengalami penurunan mutu tersebut nantinya dilelang dengan harga minimum Rp11.000 per kilogram. Harga tersebut berada di bawah harga beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang berada di kisaran Rp12.000 per kilogram.
“Dilelang, tadi sudah kita putuskan ya, dilelang tapi minimal Rp11.000. SPHP kan Rp12.000 jadi beda Rp1.000 aja. Boleh dilelang Rp11.000 itu yang mutunya turun itu nanti bisa dibeli oleh pabrik-pabrik tepung itu, pengusaha tepung itu untuk dijadikan tepung sehingga harga tepung yang naik juga bisa turun,” tandasnya.
Dengan demikian, langkah tersebut diarahkan untuk mengurangi risiko kerugian akibat stok beras yang terus menurun mutunya sekaligus mendorong pemanfaatan komoditas tersebut dalam industri pangan domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
GIIAS 2026 menghadirkan puluhan mobil baru dari berbagai merek. Simak daftar 10 mobil paling menarik, mulai Suzuki XL7 terbaru hingga Mazda 6e dan Toyota Land C
DPRD DIY meminta DTSEN tidak diterapkan kaku karena data bansos harus diuji dengan kondisi riil warga, termasuk pekerja informal dan pengguna pinjol.
Gus Kikin memastikan tetap menjaga kedekatan dengan PWNU Jatim meski lebih banyak bertugas di Jakarta sebagai Ketua Umum PBNU 2026–2031.
Sultan HB X menyoroti pengelolaan MBG di Sleman, terutama penyimpanan bahan makanan dan waktu memasak setelah 70 siswa diduga keracunan.
Kapal induk Giuseppe Garibaldi kini berada di Laut Arab menuju Indonesia dan dijadwalkan tiba 17 September sebelum berganti nama menjadi KRI Gajah Mada.
Astrid dan BI Solo menyerahkan sarana produksi kepada Kelompok Wanita Kreatif Surakarta untuk mengembangkan kain perca menjadi produk fashion bernilai ekonomi.