Harga Ayam dan Telur Naik, Dapur MBG Diminta Beli dari Peternak

Rika Anggraeni
Rika Anggraeni Senin, 27 Juli 2026 13:57 WIB
Harga Ayam dan Telur Naik, Dapur MBG Diminta Beli dari Peternak

Farida melayani penjualan daging ayam di Pasar Beringharjo. /Harian Jogja- Abdul Hamid Razak

Harianjogja.com, JAKARTA— Harga ayam ras dan telur ayam ras mulai mengalami kenaikan seiring kembali bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah pun meminta dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membeli bahan baku secara langsung dari peternak untuk menjaga harga di tingkat produsen tetap stabil.

Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Gizi Nasional (BGN) telah menyepakati harga kedua komoditas tersebut tidak boleh berada di bawah harga acuan pembelian (HAP). HAP ayam ras ditetapkan sebesar Rp25.000 per kilogram, sedangkan HAP telur ayam ras sebesar Rp26.500 per kilogram.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan asosiasi peternak Pinsar Petelur Nasional (PPN) telah melaporkan bahwa harga ayam dan telur mulai membaik setelah permintaan dari program MBG kembali meningkat.

“Jadi nanti dikontrol harganya tidak boleh di bawah harga pembelian pemerintah. Kami sudah sepakat dengan kalau harga ayam, kalau tidak salah Rp25.000 per kilogram dan harga telur itu Rp26.500 [per kilogram],” kata Amran saat ditemui di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Senin (27/7/2026).

Menurut Amran, pengawasan harga tidak dilakukan melalui Satuan Tugas (Satgas) Pangan. Mekanisme pengendalian akan dilakukan melalui pengadaan bahan baku oleh BGN.

Ia menambahkan, dapur-dapur SPPG ke depan akan diarahkan membeli bahan baku langsung dari peternak. Langkah tersebut dilakukan untuk memutus rantai distribusi yang selama ini dinilai menyebabkan adanya pihak yang mengambil keuntungan dari pengadaan komoditas untuk program MBG.

“Ternyata ada keliru selama ini. Ini harus SPPG atau dapur-dapurnya itu bila perlu langsung saja ke peternak. Dan itu nanti ditugaskan, dan tidak boleh ada lagi yang main-main. Ini luar biasa, saya berterima kasih kepada Kepala BGN baru, Pak Sudaryono,” ujarnya.

Amran mengungkapkan, pemerintah memutuskan memangkas mata rantai distribusi agar harga ayam dan telur di tingkat peternak tetap terjaga. Dengan skema tersebut, peternak diharapkan memperoleh harga yang lebih baik dan pasokan untuk program MBG dapat berjalan lebih optimal.

Menurutnya, program MBG juga memiliki peran strategis sebagai penyerap hasil produksi sektor pertanian dan peternakan nasional. Program tersebut dinilai menjadi pasar yang mampu menopang permintaan berbagai komoditas pangan.

“MBG adalah off-taker untuk produksi-produksi pertanian 160 juta petani, peternak, pekebun yang menjadi off taker mereka. Jadi off takernya, MBG adalah off-taker-nya komoditas pertanian,” ujarnya.

Kembalinya operasional program MBG pascalibur sekolah diketahui mulai mengerek permintaan telur ayam ras dan daging ayam. Harga kedua komoditas yang sempat anjlok akibat penghentian sementara operasional dapur SPPG kini kembali mengalami kenaikan.

Selama penghentian sementara MBG, permintaan telur dan daging ayam dari SPPG menurun tajam. Kondisi tersebut menyebabkan harga ayam hidup dan telur di tingkat peternak merosot hingga berada di bawah biaya produksi sebelum kembali pulih seiring dimulainya tahun ajaran baru.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan (Wamenko Pangan) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan kenaikan harga telur yang mulai dirasakan pedagang merupakan konsekuensi meningkatnya permintaan setelah aktivitas sekolah kembali normal.

“Kemarin sebenarnya ini yang kemudian harusnya diatur lebih detail ya. Ada supply dan demand-nya itu. Pada saat kemudian supply dan demand-nya kita lepas, demikian maka demand-nya pada saat turun memang kemudian harganya akan jauh turun,” ujar Hanif dalam konferensi pers di Pasar Tebet Timur, Jakarta Selatan, Senin (20/7/2026).

Hanif menilai kenaikan harga telur masih berada pada level yang wajar karena mencerminkan kembali seimbangnya permintaan dan pasokan. Pergerakan harga tersebut juga dinilai mampu menjaga keseimbangan antara biaya produksi di tingkat peternak dan daya beli masyarakat.

“Saya rasa kenaikan hari ini ya kita maklumi sebagai suatu pergerakan demand dengan masuknya anak-anak sekolah, yang kemudian mau tidak mau, suka tidak suka, pengaruh dampak MBG ini demikian terasa,” tandasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online