Stok Bulog 5,25 Juta Ton, Serapan Gabah Dekati Target 4 Juta

Newswire
Newswire Senin, 10 Agustus 2026 19:37 WIB
Stok Bulog 5,25 Juta Ton, Serapan Gabah Dekati Target 4 Juta

Penjual beras di Pasar Tradisional. - Antara

Harianjogja.com, JAKARTA—Perum Bulog mencatat stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola secara nasional mencapai 5,25 juta ton per 9 Agustus 2026. Stok tersebut tersebar di jaringan gudang Bulog di seluruh Indonesia dan menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan pasokan serta stabilitas harga pangan nasional.

Direktur Pengadaan Perum Bulog Prihasto Setyanto mengatakan jumlah stok tersebut merupakan hasil akumulasi stok awal tahun dan penyerapan gabah petani dalam negeri yang terus dilakukan sepanjang 2026.

"Stok beras yang dikelola saat ini mencapai sekitar 5,25 juta ton per 9 Agustus 2026 yang tersebar di jaringan gudang di seluruh Indonesia," kata Prihasto dalam keterangan terkonfirmasi di Jakarta, Senin.

Besarnya stok tersebut sekaligus menunjukkan kapasitas Bulog dalam menjaga ketersediaan pangan nasional. Pengelolaan stok dilakukan melalui kombinasi penguasaan stok awal tahun dan pengadaan gabah serta beras dari produksi petani dalam negeri.

Stok Awal 3,36 Juta Ton

Pada 31 Desember 2025, Bulog menguasai stok beras sekitar 3,36 juta ton. Jumlah tersebut kemudian bertambah melalui penyerapan gabah petani dalam negeri yang dilakukan sejak awal 2026.

Dalam periode 1 Januari hingga 9 Agustus 2026, gabah petani yang diserap Bulog jika dikonversikan setara beras mencapai 3,67 juta ton. Dengan demikian, secara akumulatif terdapat sekitar 7 juta ton stok yang dikelola Bulog sebelum memperhitungkan berbagai penyaluran dan pergerakan stok selama periode tersebut.

Namun, angka tersebut tidak berarti seluruh stok masih berada di gudang dalam jumlah yang sama. Bulog juga menjalankan berbagai penugasan dan penyaluran pangan sepanjang tahun.

"Namun dalam periode berjalan, Bulog juga menjalankan berbagai penugasan dan penyaluran sehingga stok yang tersedia per 9 Agustus 2026 sebanyak 5,25 juta ton,” jelas Prihasto.

Bulog Sudah Salurkan 1,78 Juta Ton

Prihasto menjelaskan hingga 9 Agustus 2026 Bulog telah menyalurkan sekitar 1,78 juta ton beras untuk berbagai kebutuhan. Penyaluran tersebut antara lain mencakup program bantuan pangan dan stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP).

Selain itu, beras Bulog disalurkan untuk penanganan bencana alam serta kebutuhan kementerian/lembaga, termasuk ASN, TNI dan Polri. Penyaluran juga mencakup kebutuhan Kemensos, Pemerintah Daerah, penjualan komersial, serta kebutuhan lainnya.

Karena adanya penyaluran tersebut, stok Bulog terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Prihasto menegaskan angka stok yang tercatat pada satu tanggal tertentu harus dipahami sebagai posisi persediaan pada saat itu.

"Jadi, angka stok hari ini harus dipahami sebagai posisi stok pada suatu waktu, bukan berarti seluruh beras tersebut diam dan tidak digunakan,” ucap Prihasto.

Menurut dia, perputaran stok berlangsung setiap hari seiring dengan fungsi Bulog dalam memberikan pelayanan pangan kepada masyarakat. Pergerakan tersebut sekaligus diperlukan untuk memastikan perawatan stok berjalan dengan baik dan menjaga umur simpan beras yang berada di gudang.

Serapan Gabah Sudah 3,67 Juta Ton

Di sisi lain, pengelolaan stok yang dinamis berjalan bersamaan dengan kebijakan Bulog untuk terus mengoptimalkan penyerapan produksi petani dalam negeri. Penguatan cadangan dilakukan dengan menyerap gabah dan beras petani terutama ketika memasuki musim panen.

Prihasto mengatakan target penyerapan juga terus ditingkatkan. Pada 2025, Bulog berhasil menyerap gabah petani yang setara dengan sekitar 3 juta ton beras.

Sementara pada 2026, target penyerapan dinaikkan menjadi 4 juta ton setara beras.

"Pada 2025, Bulog berhasil menyerap gabah petani yang setara dengan sekitar 3 juta ton beras, dan pada 2026 target tersebut ditingkatkan menjadi 4 juta ton setara beras," katanya.

Hingga 9 Agustus 2026, realisasi penyerapan gabah petani dalam negeri telah mencapai 3,67 juta ton setara beras. Artinya, realisasi tersebut sudah mendekati target tahunan Bulog sebesar 4 juta ton.

Bulog optimistis target tersebut dapat tercapai lebih cepat. Bahkan, perusahaan memproyeksikan penyerapan gabah setara beras bisa menembus 4 juta ton pada akhir September 2026.

Musim Panen Gadu Masih Berlangsung

Peluang peningkatan serapan masih terbuka karena musim panen gadu masih berlangsung di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut membuat realisasi penyerapan hingga akhir Desember 2026 berpotensi melampaui target yang telah ditetapkan.

Bagi Bulog, penyerapan produksi petani tidak hanya berkaitan dengan penguatan stok pemerintah. Kebijakan tersebut juga diarahkan untuk memberikan kepastian pasar bagi petani dalam negeri.

"Ini merupakan bagian dari komitmen Bulog untuk menjaga stok pangan nasional sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani dalam negeri,” kata Prihasto.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online