Rupiah Menguat ke Rp17.997 per Dolar AS, Ditopang PMI Manufaktur

Newswire
Newswire Senin, 03 Agustus 2026 17:27 WIB
Rupiah Menguat ke Rp17.997 per Dolar AS, Ditopang PMI Manufaktur

Dolar Amerika Serikat - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Senin (3/8/2026) di zona hijau. Mata uang Garuda menguat 25 poin atau 0,14% menjadi Rp17.997 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp18.022 per dolar AS, didukung membaiknya kinerja sektor manufaktur Indonesia serta sentimen positif dari pasar global.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global Indonesia.

PMI manufaktur Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli 2026, lebih tinggi dibandingkan 46,9 pada Juni 2026.

"Angka di atas level 50 menunjukkan kondisi operasional manufaktur kembali membaik pada awal kuartal III/2026," ungkapnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.

Produksi Manufaktur Kembali Tumbuh

Menurut Ibrahim, perbaikan PMI mencerminkan pulihnya aktivitas manufaktur setelah sektor tersebut mengalami tekanan selama beberapa bulan terakhir.

S&P Global mencatat pertumbuhan tersebut ditopang oleh meningkatnya volume produksi yang kembali ekspansif setelah mengalami kontraksi selama empat bulan.

Kenaikan produksi didukung oleh membaiknya permintaan pasar dan meningkatnya kepercayaan pelanggan. Meski demikian, laju ekspansi masih tertahan akibat kenaikan harga bahan baku.

Selain data manufaktur, sentimen domestik juga datang dari Badan Pusat Statistik (BPS).

BPS melaporkan Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14% secara bulanan (month to month/MtM) pada Juni 2026, setelah pada Mei 2026 mencatat inflasi sebesar 0,44%.

Sentimen Global Turut Mendukung

Dari sisi eksternal, penguatan rupiah juga dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Ibrahim menjelaskan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan militer besar-besaran terhadap Iran setelah negara-negara di kawasan Timur Tengah meminta waktu untuk melakukan negosiasi.

"Pernyataan tersebut memicu penurunan tajam harga minyak sebesar lebih dari 5 dolar AS per barel pada awal perdagangan di Asia, sekaligus meredakan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan yang berkepanjangan akan mempertahankan tingkat inflasi yang tinggi dan memperkuat alasan bagi penerapan kebijakan moneter yang lebih ketat," kata Ibrahim.

Penurunan harga minyak tersebut dinilai membantu meredakan tekanan inflasi global sehingga meningkatkan sentimen positif di pasar keuangan.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan. Pada perdagangan Senin, JISDOR berada di level Rp17.991 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp18.058 per dolar AS.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online