Harga Emas Melemah, Suku Bunga AS Tinggi Redam Aset Safe Haven
Produk emas Antam. - Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Harga emas mencatat penurunan mingguan terbesar dalam lebih dari satu bulan. Meski sempat menguat pada perdagangan Jumat (17/7/2026), logam mulia tetap tertekan oleh meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat (AS) akan bertahan tinggi lebih lama di tengah kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak.
Pada perdagangan akhir pekan, harga emas spot naik 1% menjadi US$4.017,23 per troy ounce, sedangkan emas berjangka menguat 0,8% ke posisi US$4.022,40 per troy ounce.
Namun secara akumulasi mingguan, emas spot masih terkoreksi 2,5%, sementara emas berjangka turun 2,2%, menjadi pelemahan mingguan terdalam dalam lebih dari sebulan.
Data Inflasi AS Sempat Dukung Harga Emas
Sepanjang pekan, harga emas sempat memperoleh sentimen positif setelah sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan inflasi.
Data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) periode Juni tercatat lebih rendah. Selain itu, penjualan ritel sektor bahan bakar melemah, sementara survei Universitas Michigan menunjukkan sentimen konsumen berada pada level tertinggi sejak Februari disertai penurunan ekspektasi inflasi.
BACA JUGA
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama.
Lonjakan Harga Minyak Ubah Sentimen Pasar
Pasar kemudian mengalihkan perhatian setelah harga minyak melonjak tajam akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi kembali meningkat sehingga investor memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih panjang.
Sejumlah pejabat bank sentral AS juga menyampaikan pandangan yang cenderung hawkish. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, Gubernur Christopher Waller, Presiden Federal Reserve New York John Williams, serta Presiden Federal Reserve Dallas Lorie Logan menilai tekanan inflasi masih perlu diwaspadai sehingga pelonggaran kebijakan moneter belum menjadi prioritas.
"Kendati data CPI dan PPI Juni sempat meningkatkan sentimen investor, komentar hawkish pejabat Federal Reserve menunjukkan biaya pinjaman kemungkinan tetap tinggi untuk menghadapi tekanan harga yang masih bertahan," kata Head of Metals Britannia Global Markets Neil Welsh, dikutip dari Investing, Sabtu (18/7/2026).
Konflik Timur Tengah Angkat Harga Minyak
Lingkungan suku bunga tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil sehingga daya tariknya berkurang dibandingkan instrumen investasi berbunga.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Iran melancarkan serangan udara terhadap fasilitas milik Amerika Serikat.
Serangan tersebut terjadi setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah menyelesaikan serangan malam keenam berturut-turut terhadap target militer Iran. Media Iran juga melaporkan serangan terbaru mengenai sejumlah infrastruktur sipil, termasuk lima jembatan dan satu stasiun kereta api.
Eskalasi konflik itu memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
Akibat kondisi tersebut, harga minyak mentah Brent berada di jalur kenaikan mingguan lebih dari 15%. Lonjakan harga energi dinilai meningkatkan risiko inflasi global sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga membatasi potensi penguatan harga emas meski permintaan aset safe haven meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share