IHSG Anjlok ke Level 6.196 Dipicu Gejolak Timur Tengah

Newswire
Newswire Jum'at, 24 Juli 2026 17:17 WIB
IHSG Anjlok ke Level 6.196 Dipicu Gejolak Timur Tengah

Foto ilustrasi perdagangan saham. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (24/7/2026) di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah dan ketidakpastian kebijakan tarif dagang Amerika Serikat (AS). IHSG ditutup turun 118,88 poin atau 1,88% ke posisi 6.196,43.

Pelemahan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 yang turun 12,33 poin atau 1,97% ke posisi 614,79. Sentimen negatif turut menyeret mayoritas bursa saham di kawasan Asia.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan meningkatnya konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan pasar saham regional.

"IHSG dan bursa regional Asia melemah seiring memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Menurut Nico, sentimen pasar juga dipengaruhi kebijakan tarif dagang baru yang akan diberlakukan Amerika Serikat. Kebijakan tersebut dinilai meningkatkan ketidakpastian ekonomi global dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi serta memicu inflasi, terutama jika harga energi bertahan pada level tinggi dalam jangka waktu panjang.

Tekanan pasar semakin meningkat setelah harga minyak mentah Brent menembus level di atas 100 dolar AS per barel. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.

"Ketegangan konflik di Timur Tengah kembali meningkat memicu kekhawatiran inflasi, setelah serangan Houthi terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah," ujar Nico.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali Iran menembak kapal di Selat Hormuz serta meningkatkan perang dengan Iran ketika Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman melakukan serangan.

Situasi tersebut dinilai meningkatkan tekanan terhadap pasokan energi global sehingga mendorong ekspektasi suku bunga global tetap berada pada level tinggi dalam waktu lebih lama.

Selain faktor geopolitik, Trump juga dijadwalkan memberlakukan tarif baru mulai Jumat waktu AS. Tarif tersebut berkisar 10 persen hingga 12,5 persen terhadap impor dari sebagian besar mitra dagang utama Amerika Serikat dan berlaku bagi barang dari 60 negara mitra dagang.

"Kebijakan itu tentunya akan berpotensi terjadi disrupsi rantai pasokan dan meningkatnya ketidakpastian, ancaman stagflasi, perlambatan sektoral sehingga ini akan membuat perlambatan pertumbuhan ekonomi global," ujar Nico.

Dari sisi domestik, Nico menilai kenaikan harga minyak dunia dan penerapan tarif baru AS berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diperkirakan meningkat seiring naiknya subsidi energi.

Selain itu, kondisi tersebut dinilai dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah, mendorong inflasi, meningkatkan potensi kenaikan suku bunga acuan, mengancam neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah, hingga menekan daya beli masyarakat.

IHSG dibuka melemah dan bertahan di zona merah sepanjang sesi pertama perdagangan. Pada sesi kedua, indeks juga masih berada di teritori negatif hingga penutupan perdagangan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh sebelas sektor mengalami pelemahan. Sektor barang konsumen non primer mencatatkan penurunan terdalam sebesar 3,26 persen, disusul sektor barang baku yang turun 3,06 persen dan sektor transportasi dan logistik yang melemah 2,81 persen.

Sementara itu, saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar yakni MCAS, ALKA, BULL, GOLD, dan KLIN. Adapun saham yang mengalami pelemahan harga terbesar adalah BAPA, COCO, FILM, JGLE, dan JELI.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.229.000 kali transaksi dengan total volume perdagangan mencapai 35,96 miliar lembar saham senilai Rp17,70 triliun. Sebanyak 113 saham menguat, 618 saham melemah, dan 234 saham tidak mengalami perubahan harga.

Di kawasan Asia, mayoritas indeks saham juga ditutup melemah. Indeks Nikkei turun 2,79% ke level 64.572,00, indeks Shanghai melemah 1,61% ke posisi 3.814,20, indeks Hang Seng turun 0,98% ke level 24.963,23, indeks Kospi melemah 5,72% ke posisi 6.690,62, dan indeks Strait Times turun 0,12% ke level 5.575,11.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online