Harga CPO 2026 Diproyeksi Tetap Tinggi, B50 dan El Nio Jadi Penopang

Hafiyyan
Hafiyyan Senin, 03 Agustus 2026 09:57 WIB
Harga CPO 2026 Diproyeksi Tetap Tinggi, B50 dan El Nio Jadi Penopang

Foto ilustrasi biofuel. Energi bauran bahan bakar minyak dan bahan bakar nabati. - Stockcake AI

Harianjogja.com, JAKARTA—Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diperkirakan masih bertahan pada level tinggi sepanjang 2026. Implementasi mandatori biodiesel B50 di Indonesia dan potensi penurunan produksi akibat fenomena El Niño di Asia Tenggara menjadi dua faktor utama yang diperkirakan menjaga harga komoditas tersebut tetap kuat.

Di Bursa Malaysia, harga CPO tercatat mencapai 4.643 ringgit per ton pada perdagangan Jumat (31/7/2026). Posisi tersebut mencerminkan kenaikan 15,53% secara year-to-date (YtD).

Vice President Equity Research RHB Research Institute Sdn Bhd Lee Leng Hoe mengatakan pasar CPO kini memasuki fase baru. Menurutnya, pembentukan harga tidak lagi hanya ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan pasokan, tetapi juga semakin dipengaruhi kebijakan pemerintah, terutama di sektor energi.

Lee menilai implementasi program B50 yang mulai berlaku di Indonesia pada Juli 2026 menjadi salah satu faktor yang memperketat pasokan CPO di pasar global.

"Mandatori B50 membutuhkan sekitar 18 juta ton CPO per tahun atau lebih dari 35% total produksi Indonesia, sehingga secara efektif memperketat pasokan global," tulis Lee Leng Hoe dalam risetnya, Jumat (31/7/2026).

Ia mengutip proyeksi Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang memperkirakan harga rata-rata CPO sepanjang 2026 berada pada kisaran 4.300 ringgit hingga 4.500 ringgit per ton. Dalam jangka pendek, harga dinilai memiliki peluang kecil untuk turun di bawah 4.000 ringgit per ton.

El Niño Mulai Menekan Produksi

Selain kebijakan biodiesel, faktor cuaca juga diproyeksikan menjadi penopang harga minyak sawit mentah.

MPOB memperkirakan dampak El Niño mulai terasa pada kuartal IV/2026 sehingga produksi minyak sawit Malaysia berpotensi turun sekitar 2% hingga 4% secara tahunan pada 2026. Padahal hingga Juni 2026, produksi minyak sawit Malaysia masih tumbuh 0,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski pasokan diperkirakan tetap ketat, Lee menilai sebagian besar pelaku pasar telah mengantisipasi dampak implementasi B50 maupun El Niño sepanjang tahun ini.

Namun demikian, ketika dampak penurunan produksi mulai terlihat pada akhir 2026, harga CPO diperkirakan kembali berpotensi melonjak pada 2027.

Atas dasar itu, RHB mempertahankan rekomendasi overweight terhadap sektor perkebunan dengan asumsi harga rata-rata CPO sebesar 4.400 ringgit per ton pada 2026 dan 4.300 ringgit per ton pada 2027.

"Kami melihat risiko kenaikan (upside risk) terhadap asumsi harga 2027 mengingat dampak El Niño terhadap produksi umumnya baru terasa sekitar 12 bulan kemudian," tulis Lee.

Pandangan serupa disampaikan Analis Senior Fastmarkets Palm Oil Analytics Sathia Varqa. Menurutnya, kombinasi kinerja ekspor yang tetap kuat serta meningkatnya premi risiko akibat cuaca menjadi faktor penting yang menopang harga CPO.

Ia menambahkan, sebagian pelaku pasar juga memanfaatkan pelemahan harga sebelumnya untuk kembali melakukan pembelian sehingga turut memberikan dukungan terhadap penguatan harga.

“Fenomena Super El Niño diperkirakan memicu kondisi cuaca yang lebih kering di Indonesia dan Malaysia sebagai dua produsen minyak sawit terbesar dunia,” tuturnya.

Apabila kondisi tersebut berlanjut, pasar memperkirakan potensi penurunan produksi akan memperketat pasokan global sekaligus menjaga harga CPO tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

Gapki Prediksi Harga Masih Bertahan Tinggi

Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Lolita Bangun mengatakan harga CPO pada semester I/2026 rata-rata mencapai US$1.432 per ton dan diperkirakan masih bertahan pada level tinggi dalam jangka pendek.

Dari sisi permintaan, implementasi mandat B50 mulai Juli 2026 diperkirakan meningkatkan kebutuhan CPO domestik sekitar 1,9 juta ton dibandingkan alokasi program B40 pada 2025 yang mencapai 12,7 juta ton.

"Dengan total kebutuhan CPO untuk B50 mencapai sekitar 14,6 juta ton, angka yang dinilai masih mencukupi, meskipun membawa risiko terhadap volume ekspor," tuturnya.

Di sisi lain, pertumbuhan produksi diperkirakan tetap tertahan di bawah 2% seiring mulai memasuki masa panen area replanting, namun masih menghadapi tantangan dampak El Niño yang mulai muncul sejak Mei 2026.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis