Kemendag Catat Business Matching UMKM Capai Rp5,95 Triliun

Fitri Sartina Dewi
Fitri Sartina Dewi Kamis, 20 Agustus 2026 07:37 WIB
Kemendag Catat Business Matching UMKM Capai Rp5,95 Triliun

Ilustrasi uang rupiah - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Akses pasar ekspor bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia terus diperluas melalui program business matching yang mempertemukan pelaku usaha dengan buyer mancanegara. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat program tersebut telah memfasilitasi 1.021 UMKM dengan nilai US$333,68 juta atau sekitar Rp5,95 triliun sepanjang Januari-Juli 2026.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, mengatakan nilai tersebut merupakan akumulasi pesanan pembelian (purchase order/PO) sebesar US$58,06 juta dan potensi transaksi US$275,61 juta.

Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan bahwa business matching dapat menjadi salah satu jalur bagi UMKM untuk mendapatkan akses terhadap calon mitra dagang di pasar internasional. Bahkan, sebagian pelaku usaha yang mengikuti program tersebut sebelumnya belum pernah melakukan ekspor.

“Business matching menjadi salah satu upaya Kemendag untuk memperluas akses pasar ekspor bagi UMKM. Sepanjang Januari—Juli 2026, Kemendag telah mempertemukan lebih dari seribu UMKM dengan buyer dari berbagai negara. Nilai PO dan potensi transaksi tercatat mencapai US$ 333,68 juta dan sebagian UMKM tersebut belum pernah mengekspor,” ujar Puntodewi dalam keterangannya, dikutip Kamis (20/8/2026).

Libatkan Buyer dari 33 Negara

Sepanjang Januari-Juli 2026, Kemendag memfasilitasi 546 kegiatan business matching. Dari jumlah tersebut, sebanyak 281 kegiatan berbentuk presentasi bisnis atau pitching yang dilakukan bersama perwakilan perdagangan Republik Indonesia di luar negeri.

Kemendag melibatkan perwakilan perdagangan RI di 33 negara tujuan ekspor untuk mencari dan mempertemukan calon buyer dengan pelaku UMKM Indonesia. Mekanisme tersebut diarahkan agar produk yang ditawarkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan calon mitra dagang.

Sementara itu, sebanyak 265 kegiatan lainnya berupa pertemuan langsung antara pelaku usaha dengan buyer. Rangkaian pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring bisnis sekaligus membuka peluang transaksi produk Indonesia di pasar global.

Juli 2026, 396 UMKM Ikut Business Matching

Khusus pada Juli 2026, Kemendag mencatat 122 kegiatan business matching yang melibatkan 396 UMKM. Kegiatan tersebut terdiri atas 44 agenda pitching dan 78 sesi pertemuan dengan buyer.

Dalam pelaksanaan selama Juli tersebut, tercatat 79 buyer dari 15 negara mengikuti kegiatan. Nilai transaksi yang berhasil dicatat mencapai US$82,33 juta.

Nilai tersebut terdiri atas PO sebesar US$21,34 juta dan potensi transaksi sebesar US$60,99 juta. Dengan demikian, kegiatan business matching pada Juli turut memberikan tambahan peluang bagi UMKM untuk memperluas pasar produknya ke luar negeri.

Sejumlah negara yang menjadi tujuan pasar dalam kegiatan Juli 2026 antara lain Malaysia, Inggris, Arab Saudi, India, Amerika Serikat, Nigeria, Meksiko, Tiongkok, dan Australia.

Produk yang mendapat minat buyer juga cukup beragam. Komoditas dan produk tersebut mencakup susu, pakan ternak, sarang burung walet, obat-obatan, fesyen, kerajinan, dekorasi rumah, makanan dan minuman olahan, kelapa, batu damar, minyak atsiri, kopi, furnitur, herbal, arang kelapa, hingga briket.

“Keragaman negara tujuan dan produk yang diminati menunjukkan luasnya peluang ekspor yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM. Oleh karena itu, kami akan terus mengoptimalkan peran perwakilan perdagangan RI dalam mengidentifikasi buyer potensial dan mempertemukannya dengan eksportir Indonesia,” ujarnya.

Kemendag Gandeng Pembina UMKM

Dalam menjalankan business matching pada Juli 2026, Kemendag tidak bekerja sendiri. Kementerian tersebut menggandeng sejumlah instansi dan lembaga yang selama ini berperan dalam pembinaan UMKM.

Beberapa pihak yang terlibat antara lain Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), Sarinah, Bank Indonesia, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, serta Export Center.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan pelaku UMKM sebelum memasuki pasar ekspor. Pendampingan juga diarahkan agar peluang yang muncul dalam pertemuan bisnis tidak berhenti pada penjajakan, tetapi dapat berkembang menjadi transaksi perdagangan.

Puntodewi mengatakan Kemendag akan terus memperkuat skema business matching sebagai bagian dari strategi meningkatkan daya saing produk Indonesia sekaligus memperluas jangkauan pasar ekspor.

“Kemendag akan terus memperkuat pendampingan dan fasilitasi agar semakin banyak UMKM yang siap masuk pasar global. Kami harap, peluang yang diperoleh melalui business matching dapat berlanjut menjadi kerja sama dagang dan transaksi ekspor yang berkelanjutan,” pungkas Puntodewi.

Dengan capaian hingga Juli 2026 tersebut, program business matching Kemendag menjadi salah satu upaya mempertemukan UMKM Indonesia dengan kebutuhan pasar internasional. Bagi pelaku usaha yang belum memiliki pengalaman ekspor, pertemuan dengan buyer mancanegara juga membuka peluang untuk mulai memasuki rantai perdagangan global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online