Motor Listrik Nasional Ditargetkan Ciptakan 215.000 Lapangan Kerja
Presiden Prabowo Subianto meninjau peluncuran Motor Listrik Nasional beserta ekosistem pendukungnya di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026)./BPMI Sekretariat Presiden
Harianjogja.com, JAKARTA—Program Motor Listrik Nasional (Molinas) diproyeksikan menciptakan sekitar 215.000 lapangan kerja sekaligus menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp150 triliun sepanjang 2026–2031.
Pemerintah tidak hanya menempatkan Molinas sebagai program untuk meningkatkan penggunaan sepeda motor listrik. Program ini juga diarahkan untuk membangun ekosistem industri kendaraan listrik nasional dari manufaktur hingga layanan purnajual.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan rantai industri yang dikembangkan mencakup manufaktur, komponen dan baterai, distribusi, pembiayaan, pengisian daya, hingga layanan purnajual.
"Jadi program motor listrik manfaatnya banyak sekali, selain penghematan subsidi bahan bakar, juga menciptakan lapangan kerja," ujar Susiwijono di Jakarta, dikutip Minggu (23/8/2026).
Molinas Targetkan Produksi 1 Juta Unit
Dari sisi tenaga kerja, pemerintah memperkirakan pengembangan industri dan ekosistem Molinas dapat menyerap sekitar 215.000 pekerja.
BACA JUGA
Lapangan pekerjaan tersebut mencakup sektor original equipment manufacturer (OEM), komponen, baterai, hingga pembangunan infrastruktur pengisian daya.
Sementara itu, kemampuan awal ekosistem Molinas berada di kisaran 100.000 unit per tahun. Kapasitas produksi tersebut ditargetkan meningkat hingga 1 juta unit per tahun pada 2028.
Peningkatan kapasitas itu menjadi bagian dari upaya pemerintah memperbesar skala industri motor listrik nasional. Selain produksi, pemerintah juga menetapkan target peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Saat ini, TKDN dalam materi pemerintah tercatat sekitar 40%. Angka tersebut ditargetkan meningkat menjadi 60%.
Penghematan Subsidi BBM Capai Rp82,2 Triliun
Pengembangan motor listrik nasional juga diproyeksikan memberikan dampak terhadap keuangan negara. Pemerintah memperkirakan adopsi motor listrik dapat menghasilkan penghematan subsidi BBM sekitar Rp82,2 triliun sepanjang 2027–2037.
Proyeksi tersebut menggunakan asumsi terdapat sekitar 11 juta unit motor listrik yang beroperasi pada 2037.
Dari sektor perdagangan, Molinas juga diharapkan membantu memperkuat neraca perdagangan Indonesia melalui pengurangan ketergantungan terhadap impor minyak.
Dampak dari substitusi impor minyak tersebut diproyeksikan mencapai sekitar Rp45 triliun.
Susiwijono mengatakan manfaat pengembangan ekosistem kendaraan listrik perlu dilihat secara menyeluruh. Dampaknya tidak hanya berasal dari transaksi penjualan kendaraan, tetapi juga aktivitas produksi dan penggunaan komponen dalam negeri.
Pembangunan infrastruktur, pembiayaan, serta pergerakan masyarakat dan barang juga menjadi bagian dari dampak ekonomi yang ingin didorong melalui program tersebut.
Molinas Dibangun dari Hulu hingga Hilir
Dengan berbagai sasaran tersebut, Molinas diarahkan bukan sekadar sebagai program untuk meningkatkan penggunaan motor listrik. Pemerintah menjadikannya sebagai upaya membangun industri nasional dari hulu hingga hilir.
Namun, pencapaian target tersebut tetap bergantung pada sejumlah aspek. Pemerintah dan pelaku industri perlu meningkatkan kapasitas produksi, TKDN, infrastruktur, serta penyerapan pasar domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share