8 Orang Hilang di Selat Sunda, Sektor X Jadi Fokus Pencarian Hari Ketujuh
Pencarian 8 orang hilang di Selat Sunda memasuki hari ketujuh. SAR mengerahkan 18 kapal dan 1 helikopter, dengan fokus di Sektor X.
Pedagang cabai rawit merah. - Foto ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Harga cabai rawit menjadi salah satu pemicu utama kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) pangan pada minggu kedua September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 260 kabupaten/kota mengalami kenaikan IPH cabai rawit hingga 11 September 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan perubahan IPH cabai rawit mencapai 27,54 persen. Angka tersebut tergolong tinggi dibandingkan sejumlah komoditas pangan lainnya yang dipantau BPS.
"Cabai rawit ini mengalami perubahan IPH yang sangat tinggi, naik 27,54 persen. Ada 260 kabupaten kota yang mengalami peningkatan IPH cabai rawit," kata Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena harga cabai rawit di sejumlah daerah telah berada jauh di atas batas atas Harga Acuan Penjualan (HAP).
Harga Cabai Rawit Jauh di Atas HAP
Ateng mencontohkan kondisi harga cabai rawit di Kabupaten Halmahera Utara yang tercatat 171 persen di atas HAP. Sementara itu, harga komoditas yang sama di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara mencapai 156% di atas HAP.
Harga cabai rawit juga tercatat lebih dari 100 persen di atas HAP di sejumlah wilayah lain, termasuk Bolaang Mongondow Timur dan Kepulauan Sangihe.
"Kalau kita bandingkan dengan batas bawah dan juga batas atas HAP, kondisi di bulan September cukup jauh di atas batas atas HAP untuk cabai rawit,” ujarnya.
Secara nasional, harga rata-rata cabai rawit pada minggu kedua September 2026 mencapai Rp76.216 per kilogram. Angka tersebut berada di atas HAP yang ditetapkan sebesar Rp57.000 per kilogram.
Sulawesi Utara Jadi Salah Satu Wilayah Terdampak
Kenaikan harga cabai rawit ikut mendorong tingginya IPH di sejumlah wilayah, salah satunya Sulawesi Utara. Provinsi tersebut mencatat perubahan IPH sebesar 12,53 persen pada minggu kedua September 2026.
Di tingkat kabupaten/kota, kenaikan IPH yang cukup tinggi terjadi di Bolaang Mongondow sebesar 17,05 persen. Sementara Kepulauan Sangihe mencatat kenaikan sekitar 15 persen.
Ateng menjelaskan cabai rawit bukan satu-satunya komoditas yang memberikan tekanan terhadap perkembangan harga pangan di wilayah tersebut. Cabai merah juga turut berkontribusi terhadap kenaikan harga.
"Di Sulawesi Utara, terutama di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sangihe sampai dengan Bolaang Mongondow Selatan, penyebabnya terutama cabai rawit dan juga cabai merah," terang Ateng.
Cabai Merah Ikut Tekan Harga Pangan
BPS mencatat IPH cabai merah meningkat 12,77 persen pada minggu kedua September 2026. Sebanyak 233 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga komoditas tersebut atau sekitar 64,72 persen dari total kabupaten/kota.
Kenaikan harga kedua jenis cabai tersebut turut terlihat dalam perkembangan IPH secara keseluruhan. Pada minggu kedua September 2026, sebanyak 314 kabupaten/kota mengalami peningkatan IPH.
Jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH tersebut lebih tinggi dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Perkembangan harga cabai rawit menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pemantauan harga pangan di daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Pencarian 8 orang hilang di Selat Sunda memasuki hari ketujuh. SAR mengerahkan 18 kapal dan 1 helikopter, dengan fokus di Sektor X.
DPRD Bantul meminta Pemkab bergerak cepat memanfaatkan Kelok 23 untuk mendorong pariwisata, investasi, dan kesejahteraan warga selatan.
DPAD DIY kembali menggelar workshop perbaikan buku rusak karena minat masyarakat membaca buku fisik masih tinggi.
Menkeu Purbaya siapkan sekitar Rp31,1 triliun untuk mengalihkan pembayaran gaji PPPK daerah ke pemerintah pusat mulai Januari 2027.
DPRD Kota Jogja mulai mengarahkan tamu kunjungan kerja ke kampung wisata untuk mengenalkan produk lokal dan mendorong ekonomi masyarakat.
YIA menyalurkan Rp100 juta untuk penanganan stunting 115 balita di Kulonprogo melalui PMT, multivitamin, edukasi, dan ayam petelur.