IHSG Melemah ke 6.461,15, Bursa Asia Kompak Tertekan

Newswire
Newswire Selasa, 15 September 2026 18:17 WIB
IHSG Melemah ke 6.461,15, Bursa Asia Kompak Tertekan

Ilustrasi pasar modal. /Bisnis Indonesia-Dedi Gunawan

Harianjogja.com, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berakhir di zona merah pada perdagangan Selasa (15/9/2026). IHSG melemah 73,54 poin atau 1,13 persen ke posisi 6.461,15, mengikuti tekanan yang terjadi di sejumlah bursa kawasan Asia.

Sentimen geopolitik global menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar. Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS), serta konflik Ukraina dengan Rusia, turut membayangi pergerakan pasar saham.

Tekanan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan. Indeks LQ45 ditutup turun 8,27 poin atau 1,25 persen ke posisi 650,76.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico mengatakan pelemahan bursa regional Asia menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. Kenaikan harga minyak juga memperkuat sentimen tersebut setelah Arab Saudi menutup jalur pipa utama.

"Dari eksternal bursa regional Asia melemah, perhatian pasar tertuju seiring dengan harga minyak yang memperpanjang kenaikannya setelah Arab Saudi menutup jalur pipa utama,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Ketegangan Iran-AS dan Ukraina-Rusia

Dari sisi global, perhatian pasar tertuju pada perkembangan situasi di kawasan Hormuz. Nico mengatakan pertemuan diplomatik Iran dengan negara-negara Teluk Arab untuk membahas situasi di Hormuz tiba-tiba ditunda.

Iran mengklaim sebuah kapal tanker super yang mencoba memasuki area terlarang di Hormuz meledak setelah menabrak ranjau. Pada saat yang sama, Iran tetap menyatakan tidak akan terlibat dalam pembicaraan dengan AS sampai tuntutan mereka dipenuhi.

Di Eropa Timur, Ukraina membantah klaim Presiden AS Donald Trump mengenai adanya kesepakatan dengan Rusia untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi.

Presiden Ukraina, Zelenskyy, mengatakan Ukraina siap menghentikan serangan terhadap target energi Rusia apabila Rusia melakukan hal yang sama. Pernyataan tersebut bertentangan dengan klaim Trump bahwa Moskow dan Kyiv telah mencapai kesepakatan untuk menangguhkan serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing.

Perkembangan geopolitik tersebut turut menjadi perhatian pasar karena berdampak terhadap harga energi dan prospek inflasi. Kenaikan harga energi dinilai dapat meningkatkan tekanan terhadap kebijakan moneter AS.

“Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan tekanan pada The Fed untuk memperketat kebijakan, dengan pasar saat ini memperkirakan sekitar 92 persen kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada hari Rabu waktu AS,” ujar Nico.

Pasar Cermati Pergantian Menteri Keuangan

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati pengangkatan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.

Pergantian tersebut membuat pasar akan memperhatikan konsistensi arah kebijakan fiskal serta kredibilitas pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ke depan.

“Pasar berharap pergantian Menteri tersebut menjaga kontinuitas dan disiplin fiskal,” ujar Nico.

Menteri Keuangan Suahasil Nazar sebelumnya mengungkapkan komitmennya untuk menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara. Salah satu perhatian utamanya adalah memastikan APBN tetap mampu mendukung program prioritas pemerintah.

Suahasil juga menyebut APBN harus menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas. Selain itu, ia berkomitmen menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

IHSG Bertahan di Zona Merah

Tekanan terhadap IHSG sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan. IHSG dibuka melemah dan bertahan di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham.

Memasuki sesi kedua, indeks masih berada di zona merah sampai perdagangan saham berakhir. Kondisi tersebut membuat IHSG ditutup pada level 6.461,15.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, terdapat tiga sektor yang berhasil menguat. Sektor barang konsumen nonprimer menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 0,53 persen.

Penguatan berikutnya terjadi pada sektor kesehatan dan infrastruktur yang masing-masing naik 0,43 persen dan 0,34 persen.

Sementara itu, delapan sektor mengalami pelemahan. Sektor industri menjadi sektor yang turun paling dalam, yakni 1,16 persen, disusul sektor keuangan yang melemah 0,99 persen dan sektor energi turun 0,89 persen.

Saham Penguat dan Pelemah Terbesar

Sejumlah saham tercatat mengalami penguatan harga terbesar pada perdagangan Selasa. Saham tersebut antara lain DEFI, CCSI, VOKS, ALKA, dan TRJA.

Sebaliknya, saham yang mengalami pelemahan harga terbesar adalah SAPX, SMRA, RIGS, UDNG, dan LAPD.

Aktivitas perdagangan juga cukup tinggi. Frekuensi transaksi saham tercatat sebanyak 1.756.000 kali dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 25,60 miliar lembar saham.

Nilai transaksi perdagangan saham pada hari tersebut mencapai Rp12,67 triliun. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 330 saham naik, 332 saham turun, sedangkan 301 saham tidak bergerak nilainya.

Bursa Asia Kompak Melemah

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia sejalan dengan pergerakan sejumlah indeks saham regional Asia pada Selasa sore.

Indeks Nikkei melemah 0,01 persen ke level 63.492,00. Indeks Shanghai juga turun 0,54 persen ke 3.864,28.

Sementara itu, indeks Hang Seng melemah 1,00 persen ke 24.667,24. Indeks Kospi turun 0,85 persen ke 6.627,26, sedangkan indeks Straits Times menjadi salah satu yang mengalami penurunan paling dalam dengan melemah 1,45 persen ke 5.634,93.

Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan pasar regional berlangsung bersamaan dengan perhatian investor terhadap perkembangan geopolitik, harga energi, kebijakan suku bunga, serta kondisi ekonomi global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online