Ekonomi Haji-Umrah Capai Rp80 Triliun, UMKM Didorong Ambil Peluang

Reyhan Fernanda Fajarihza
Reyhan Fernanda Fajarihza Minggu, 27 September 2026 17:27 WIB
Ekonomi Haji-Umrah Capai Rp80 Triliun, UMKM Didorong Ambil Peluang

Ibadah haji. /Ist-Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Potensi perputaran ekonomi dari penyelenggaraan haji dan umrah Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp80 triliun. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mendorong agar besarnya potensi tersebut turut memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan pelaku usaha nasional.

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf menjelaskan potensi tersebut berasal dari kebutuhan penyelenggaraan haji yang diperkirakan mendekati Rp20 triliun.

Sementara itu, potensi ekonomi dari kegiatan umrah diperkirakan mencapai sekitar Rp60 triliun. Dengan demikian, total perputaran ekonomi haji dan umrah Indonesia berada di kisaran Rp80 triliun.

Kemenhaj menilai nilai ekonomi tersebut tidak seharusnya seluruhnya mengalir keluar Indonesia. Karena itu, pemerintah berupaya membangun ekosistem ekonomi haji dan umrah agar sebagian manfaatnya dapat kembali kepada masyarakat Indonesia.

“Harapan kita, angka itu jangan semuanya hilang. Sebaiknya sebagian bisa kembali kepada masyarakat kita. Karena itu kita membangun ekosistem ekonomi haji dan umrah agar manfaatnya juga dirasakan oleh pelaku usaha Indonesia,” kata Yusuf dalam keterangan resmi, dikutip pada Minggu (27/9/2026).

UMKM Didorong Masuk Pasar Arab Saudi

Irfan mendorong penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah agar pelaku usaha nasional, khususnya UMKM, memperoleh porsi lebih besar dalam rantai pasok.

Menurutnya, pasar Arab Saudi memiliki peluang yang luas bagi berbagai produk Indonesia. Komoditas yang berpotensi masuk ke pasar tersebut antara lain makanan dan minuman, pangan olahan, perlengkapan haji, busana, kerajinan, hingga oleh-oleh.

Namun, peluang tersebut perlu diikuti kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi berbagai persyaratan. Kualitas produk, harga, regulasi, serta kontinuitas pasokan menjadi sejumlah hal yang harus diperhatikan.

“Kalau hari ini kita bisa mengekspor, tetapi tahun berikutnya tidak siap, mitra tentu akan memilih pemasok yang kontinuitasnya lebih terjamin. Karena itu kesiapan dan konsistensi harus kita jaga,” ujar Irfan.

Konsistensi pasokan menjadi salah satu hal penting agar produk Indonesia dapat terus memenuhi kebutuhan pasar Arab Saudi. Pelaku usaha tidak hanya dituntut mampu melakukan ekspor, tetapi juga menjaga kemampuan memasok secara berkelanjutan.

Kemenhaj Dorong Kemitraan dan Konsorsium Ekspor

Untuk memperkuat daya saing pelaku usaha, Kemenhaj mendorong pembentukan kemitraan dan konsorsium ekspor. Langkah tersebut diharapkan membuat UMKM memiliki akses pasar yang lebih luas dan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Irfan memandang sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, perbankan, eksportir, serta penyelenggara perjalanan haji dan umrah menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem tersebut.

Kolaborasi berbagai pihak dinilai penting untuk membuka akses yang lebih luas ke pasar Arab Saudi. Sinergi tersebut juga menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia.

Dengan penguatan ekosistem tersebut, penyelenggaraan haji dan umrah tidak hanya dilihat dari sisi kegiatan keagamaan, tetapi juga dari potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.

Irfan menegaskan kegiatan haji dan umrah harus mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian nasional.

“Penyelenggaraan haji dan umrah tidak boleh berhenti menjadi sekadar kewajiban ritual, tetapi harus menjadi motor penggerak ekonomi,” kata Irfan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online