Nike Siapkan PHK Mulai 2027, Ini Alasan dan Rencananya

Jumali
Jumali Jum'at, 02 Oktober 2026 09:57 WIB
Nike Siapkan PHK Mulai 2027, Ini Alasan dan Rencananya

Nike Dunk/Ist

Harianjogja.com, JOGJA— Nike menyiapkan restrukturisasi besar melalui program Pace setelah mencatat penurunan pendapatan pada kuartal I tahun fiskal 2027. Perusahaan olahraga asal Amerika Serikat itu memperkirakan perubahan tersebut akan membuat jumlah posisi di Nike berkurang, dengan keputusan mengenai posisi yang terdampak mulai dilakukan pada 2027.

Dalam laporan keuangan yang dirilis Kamis (1/10/2026), Nike membukukan pendapatan US$11,21 miliar pada kuartal yang berakhir 31 Agustus 2026. Pendapatan tersebut turun 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan berada di bawah ekspektasi analis sekitar US$11,32 miliar.

Meski pendapatan melemah, laba per saham terdilusi Nike mencapai US$0,48 atau 48 sen, melampaui perkiraan analis sebesar 43 sen. Laba bersih perusahaan tercatat sekitar US$712 juta, turun 2 persen dari US$727 juta pada kuartal yang sama tahun sebelumnya.

Nike juga mencatat perbaikan margin kotor. Margin kotor kuartal tersebut mencapai 42,8 persen, naik 60 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama karena biaya pergudangan dan logistik yang lebih rendah.

Penjualan Nike di Greater China Turun 26 Persen

Salah satu tekanan terbesar Nike masih berasal dari Greater China. Pendapatan di kawasan tersebut turun 26 persen secara basis mata uang konstan, sedangkan secara nominal penurunannya mencapai 22 persen menjadi sekitar US$1,18 miliar.

Penurunan di Greater China menjadi salah satu faktor utama yang menekan kinerja Nike pada kuartal tersebut. Reuters mencatat penurunan di kawasan itu telah berlangsung selama beberapa kuartal, sementara Nike kini berupaya mengubah strategi distribusi dan digitalnya di pasar China.

CEO Nike Elliott Hill mengatakan perusahaan bergerak dengan cepat untuk memperbaiki bisnis di kawasan tersebut. Nike juga berencana mempersempit ekosistem digitalnya di China dengan mengandalkan lebih sedikit kanal yang dinilai dapat memberikan pengalaman merek yang lebih terkontrol.

Di Amerika Utara, kondisi Nike relatif lebih baik. Pendapatan kawasan tersebut tumbuh, meski kenaikannya belum cukup untuk mengimbangi tekanan di Greater China dan sejumlah bagian bisnis lainnya.

Hill mengatakan bisnis Sport Offense menunjukkan perkembangan yang terukur. Namun, momentum tersebut belum cukup untuk menutup tekanan yang masih terjadi pada NIKE Sportswear, Jordan Brand, dan Greater China.

Nike menyebut pendapatan NIKE Brand mencapai US$11 miliar atau turun 4 persen. Pendapatan NIKE Direct juga turun 8 persen menjadi US$4,1 miliar, terutama karena penurunan penjualan digital NIKE Brand sebesar 13 persen.

Sementara itu, Converse mencatat pendapatan US$263 juta, turun 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Restrukturisasi Pace Nike Mulai Berdampak ke Tenaga Kerja

Di tengah tekanan tersebut, Nike memperkenalkan Pace sebagai transformasi model operasional untuk memperbesar momentum dari bisnis Sport Offense. Program ini bukan sekadar respons terhadap kinerja satu kuartal, tetapi merupakan bagian dari perubahan struktur operasi perusahaan.

Pace mencakup empat fokus utama, yakni mempercepat modernisasi rantai pasok global, mengorganisasi Nike ke dalam tiga wilayah geografis, membangun kampus baru di Bengaluru, India, serta mengubah cara kerja dan struktur tenaga kerja.

Tiga wilayah yang akan digunakan Nike adalah Americas yang mencakup Amerika Utara dan Amerika Latin; Asia Pasifik dan Greater China atau APGC; serta Eropa, Timur Tengah, dan Afrika atau EMEA. Struktur baru tersebut ditargetkan mulai diterapkan pada tahun fiskal 2028.

Nike juga berencana membangun kampus baru di Bengaluru, India. Fasilitas tersebut akan menjadi bagian dari investasi jangka panjang perusahaan untuk mengembangkan kemampuan dan talenta yang mendukung Nike, Jordan Brand, serta Converse.

Perubahan struktur organisasi itu sekaligus membawa konsekuensi terhadap jumlah tenaga kerja. Nike mengatakan perusahaan akan membutuhkan lebih sedikit posisi seiring perubahan cara dan lokasi kerja.

Namun, Nike belum mengungkapkan jumlah posisi yang akan terdampak. Hill secara khusus mengatakan angka atau lokasi yang beredar di media sebelum perusahaan menyelesaikan proses internal masih bersifat spekulatif.

Keputusan mengenai posisi yang terdampak akan mulai dilakukan pada tahun kalender 2027 dan seterusnya. Untuk wilayah yang mewajibkan konsultasi ketenagakerjaan, Nike mengatakan proposal tidak akan difinalisasi sebelum proses tersebut selesai.

Nike Targetkan Penghematan US$2,5 Miliar

Melalui Pace, Nike memperkirakan dapat menghasilkan penghematan kumulatif sekitar US$2,5 miliar hingga tahun fiskal 2031. Namun, program tersebut juga membutuhkan biaya restrukturisasi yang cukup besar.

Nike memperkirakan sekitar US$1 miliar biaya sebelum pajak terkait Pace hingga fiskal 2031, terutama untuk biaya yang berhubungan dengan karyawan. Selain itu, Nike telah mengakui sekitar US$300 juta biaya pesangon pada fiskal 2026 dan memperkirakan sekitar US$300 juta biaya terkait program tersebut akan dibukukan pada fiskal 2027.

Untuk fiskal 2027, Nike memperkirakan biaya restrukturisasi Pace akan mengurangi laba per saham terdilusi sekitar 15 sen dolar AS. Perusahaan memperkirakan laba per saham terdilusi yang disesuaikan berada pada kisaran US$1,15 hingga US$1,35.

Sebelum penghematan dan biaya restrukturisasi tersebut diperhitungkan, Nike juga memperingatkan bahwa pendapatan fiskal 2027 diperkirakan turun dalam kisaran satu digit tinggi. Proyeksi itu menunjukkan proses pemulihan bisnis Nike diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam beberapa kuartal ke depan.

Restrukturisasi Bukan PHK Pertama Nike pada 2026

Perubahan terbaru ini berlangsung setelah Nike sebelumnya melakukan pengurangan tenaga kerja pada 2026. Pada April 2026, Nike mengumumkan pengurangan sekitar 1.400 posisi di Global Operations, dengan sebagian besar posisi yang terdampak berada di bidang teknologi.

Sebelumnya, Nike juga melakukan pengurangan sekitar 775 posisi di pusat distribusi Amerika Serikat pada awal 2026. Karena itu, restrukturisasi Pace menjadi bagian dari rangkaian perubahan organisasi yang telah berlangsung sepanjang tahun.

Dalam pernyataannya kepada karyawan, Hill mengakui bahwa berkurangnya posisi di perusahaan menciptakan ketidakpastian bagi pekerja. Ia mengatakan Nike akan berkomunikasi secara langsung dan transparan dengan karyawan yang terdampak ketika keputusan mengenai posisi mulai dibuat.

Sementara itu, kinerja kuartal I fiskal 2027 menjadi dasar terbaru bagi Nike untuk menjalankan Pace. Perusahaan menyatakan program tersebut diarahkan untuk mempercepat pengambilan keputusan, meningkatkan produktivitas, serta mengalihkan investasi ke inovasi produk, olahraga, merek, dan hubungan dengan konsumen.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online