Diesel Inggris Tembus Rp48.000 per Liter, Ini Penyebabnya

Jumali
Jumali Sabtu, 03 Oktober 2026 11:37 WIB
Diesel Inggris Tembus Rp48.000 per Liter, Ini Penyebabnya

Ilustrasi SPBU - StockCake

Harianjogja.com, JOGJA— Harga diesel Inggris menembus rekor hampir £2 atau sekitar Rp48.289 per liter, tetapi pemerintah Inggris memastikan pasokan bahan bakar masih aman di tengah tekanan pasar energi global.

Menteri Transportasi Inggris Keir Mather mengatakan sistem pasokan diesel negaranya memiliki sumber yang beragam. Pernyataan itu disampaikan ketika harga bahan bakar melonjak akibat gangguan pada pasar energi yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah.

“Pagi ini saya ingin meyakinkan masyarakat bahwa Inggris memiliki sumber pasokan yang beragam dalam hal kebutuhan diesel,” kata Mather kepada Sky News, dikutip Anadolu, Jumat (2/10/2026).

Mather mengatakan diversifikasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat sistem pasokan Inggris dinilai memiliki ketahanan. Pemerintah Inggris juga berkoordinasi dengan Amerika Serikat, Badan Energi Internasional (IEA), dan mitra Eropa untuk menjaga kelancaran distribusi diesel.

Di tengah kenaikan harga, pemerintah Inggris juga mempertahankan kebijakan pembekuan bea bahan bakar. Mather menyatakan masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan kelangkaan karena sistem pasokan yang tersedia dinilai memiliki ketahanan menghadapi tekanan.

Harga Diesel Inggris Cetak Rekor

Organisasi otomotif RAC mencatat harga diesel Inggris sempat mencapai 199,33 pence atau £1,9933 per liter pada awal pekan. Angka tersebut melewati rekor sebelumnya sebesar 199,09 pence per liter yang tercatat pada Juni 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Secara rata-rata, harga diesel kemudian mencapai sekitar £2 per liter atau hampir US$2,7. Dengan asumsi kurs Rp17.888 per US$, nilai tersebut setara sekitar Rp48.289 per liter.

Kenaikan harga tersebut menjadi beban bagi konsumen dan sektor usaha yang bergantung pada bahan bakar diesel. Tekanan juga muncul karena Inggris tidak sepenuhnya memenuhi kebutuhan diesel dari produksi domestik.

Data yang dikutip dalam laporan terbaru menunjukkan Inggris mengimpor sekitar 55% diesel yang digunakan untuk kebutuhan jalan raya. Dari impor tersebut, sekitar 31% berasal dari Amerika Serikat.

Ketergantungan terhadap impor membuat perkembangan pasokan internasional menjadi penting bagi pasar Inggris. Pemerintah tetap menekankan bahwa sumber pasokan yang beragam menjadi salah satu penyangga ketika terjadi gangguan pada salah satu jalur pasokan.

Laporan keamanan pasokan pemerintah Inggris sebelumnya juga menyebut negara tersebut berada dalam posisi yang cukup baik untuk memperoleh diesel dan bahan bakar jet dari berbagai sumber. Pada 2024, Inggris mengimpor diesel dari 28 mitra perdagangan.

Harga Diesel Naik Hampir 40%

RAC mencatat harga diesel telah naik sekitar 59 pence per liter atau hampir 40% sejak konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari 2026. Kenaikan tersebut berlangsung ketika pasar energi global menghadapi gangguan pasokan dan meningkatnya risiko terhadap jalur perdagangan energi.

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada harga di stasiun pengisian bahan bakar. Kenaikan diesel juga berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang karena bahan bakar menjadi salah satu komponen penting dalam operasional kendaraan niaga.

Pemerintah Inggris kini juga menghadapi tekanan untuk memastikan ketersediaan bahan bakar tetap terjaga. Perundingan mengenai kemungkinan pemanfaatan stok darurat sebelumnya telah melibatkan Inggris, Komisi Eropa, Prancis, dan Italia.

G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Tekanan harga diesel turut mendorong negara-negara G7 mengambil langkah bersama. Para pemimpin G7 sepakat melakukan pelepasan terkoordinasi sebanyak 100 juta barel minyak dan produk energi melalui IEA dalam periode empat bulan.

Dalam kesepakatan tersebut, pelepasan diesel akan dilakukan lebih besar pada tahap awal, termasuk dalam 20 hari pertama. G7 juga menyatakan komitmen untuk tidak memberlakukan pembatasan ekspor energi dan produk energi di antara negara-negara anggota.

Keputusan tersebut diambil ketika harga bahan bakar meningkat dan kekhawatiran mengenai pasokan global semakin besar. Pelepasan cadangan diharapkan menambah pasokan di pasar serta meredakan tekanan harga dalam jangka pendek.

Harga minyak mentah ikut merespons perkembangan tersebut. Pada perdagangan Jumat (2/10/2026), harga Brent ditutup turun 6 sen menjadi US$102,25 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turun US$1,76 menjadi US$91,11 per barel.

Kesepakatan G7 juga muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mendorong negara-negara Eropa untuk memanfaatkan cadangan diesel mereka. Pemerintah AS sempat mempertimbangkan pembatasan ekspor bahan bakar, tetapi kesepakatan pelepasan cadangan G7 kemudian menjadi salah satu langkah untuk meredakan tekanan pasokan.

Bagi Inggris, perkembangan tersebut menjadi penting karena besarnya ketergantungan terhadap impor diesel membuat kondisi pasar internasional turut menentukan harga bahan bakar di dalam negeri. Untuk sementara, pemerintah Inggris tetap menyatakan pasokan diesel tersedia dan sistem distribusinya memiliki sumber yang beragam.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online