Defisit Dagang Membengkak, Uni Eropa Negosiasi dengan China

Newswire
Newswire Selasa, 13 Oktober 2026 11:17 WIB
Defisit Dagang Membengkak, Uni Eropa Negosiasi dengan China

Produsen mobil listrik asal China, Neta (Antara)

Harianjogja.com, JAKARTA—Uni Eropa dan China mencapai kesepakatan perdagangan yang mengatur ekspor mobil listrik serta tanah jarang dari China ke pasar Eropa. Kesepakatan tersebut juga diarahkan untuk memperluas akses produk Uni Eropa ke pasar China di tengah membengkaknya defisit perdagangan kedua pihak.

Komisioner Perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic mengumumkan kesepakatan itu setelah bertemu dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao pada 7–8 Oktober 2026 di Beijing, China. Salah satu poin penting dalam pembahasan tersebut adalah pengaturan ekspor kendaraan listrik dan hibrida China ke pasar Uni Eropa.

Sefcovic memperkirakan kesepakatan tersebut dapat mengurangi jumlah mobil listrik asal China yang masuk ke pasar Eropa hingga lebih dari separuh. Pengaturan ini menjadi bagian dari upaya Uni Eropa untuk mengelola arus perdagangan dengan China sekaligus merespons tekanan terhadap industri di kawasan tersebut.

“Kami sudah mencapai kesepakatan untuk membatasi mobil listrik dan hibrida menuju Uni Eropa. Kesepakatan ini membuka prospek pengurangan ekspor China hingga lebih dari separuh,” kata Sefcovic, melansir Euronews, Selasa (13/10/2026).

Ekspor Produk Eropa ke China Diperluas

Selain mengatur ekspor kendaraan dari China, kesepakatan tersebut diharapkan membuka peluang lebih besar bagi produk dan komoditas Uni Eropa untuk menembus pasar China. Sefcovic menyebut langkah itu diproyeksikan dapat meminimalkan biaya sebesar 225 juta euro.

Produk yang menjadi fokus ekspor Uni Eropa meliputi suku cadang dan komponen mobil, sepatu, es krim, serta minyak zaitun. Produk-produk tersebut berkontribusi sebesar 4 miliar euro terhadap ekspor Uni Eropa.

Akses pasar China menjadi perhatian penting bagi Uni Eropa karena negara tersebut memiliki basis konsumen yang besar. Kemudahan perdagangan diharapkan dapat memperluas peluang bagi perusahaan Eropa untuk memasarkan produknya di luar kawasan.

Kesepakatan juga mencakup komoditas strategis berupa tanah jarang dan magnet permanen dari China. Bahan tersebut dinilai penting bagi industri teknologi hijau, pertahanan, dan otomotif di Eropa.

“Kami sudah mencapai kesepakatan untuk memfasilitasi ekspor tanah jarang dan magnet permanen China secara lebih lanjut,” klaim Sefcovic.

Menurut laporan Politico, kesepakatan Uni Eropa dan China turut mencakup kemudahan akses bagi produk alat medis, daging, dan ternak Uni Eropa untuk dipasarkan di China. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas peluang perdagangan bagi eksportir Eropa.

Defisit Perdagangan Uni Eropa dengan China Membesar

Kesepakatan ini berlangsung ketika Uni Eropa menghadapi tekanan akibat defisit perdagangan dengan China. Sebelumnya, defisit perdagangan Uni Eropa tercatat mencapai sekitar 1 miliar euro per hari seiring meningkatnya impor produk dan komoditas asal China.

Jerman dan Prancis turut menyoroti persoalan tersebut sebelum kunjungan Uni Eropa ke China. Kedua negara itu menaruh perhatian terhadap defisit neraca perdagangan yang mencapai 360 miliar euro sepanjang 2025.

Jerman dan Prancis mengajukan dua proposal kebijakan dengan alasan kebijakan perdagangan Uni Eropa saat ini belum mampu mengatasi defisit dan disrupsi pasar di kawasan Eropa. Usulan tersebut mencakup diversifikasi sumber impor serta pengecualian bagi negara-negara tertentu untuk mengakses pasar Eropa.

Diversifikasi impor dipandang sebagai salah satu opsi untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok tertentu. Sementara itu, usulan pembatasan akses pasar bagi negara tertentu menunjukkan adanya dorongan untuk mengevaluasi kembali kebijakan perdagangan Uni Eropa.

Di sisi lain, China membutuhkan akses ke pasar Eropa yang memiliki sekitar 450 juta konsumen untuk memasarkan produk dan komoditasnya. Pasar tersebut menjadi penting bagi China untuk menyerap hasil produksi dan mempertahankan surplus perdagangan.

Kesepakatan perdagangan terbaru ini menjadi upaya kedua pihak dalam mengelola kepentingan ekonomi masing-masing. Uni Eropa berupaya memperluas peluang ekspor sekaligus merespons defisit perdagangan, sedangkan China berkepentingan mempertahankan akses ke pasar Eropa.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online