Harga Minyak Dunia Melonjak, Rupiah Dibuka Melemah Rp17.918 per Dolar AS

Newswire
Newswire Rabu, 14 Oktober 2026 10:47 WIB
Harga Minyak Dunia Melonjak, Rupiah Dibuka Melemah Rp17.918 per Dolar AS

Ilustrasi penukaran mata uang rupiah dengan dolar Amerika Serikat/ Bisnis.com

Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (14/10/2026). Rupiah turun 18 poin atau 0,10% menjadi Rp17.918 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.900 per dolar AS.

Analis Doo Financial Lukman Leong menilai kenaikan kembali harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang menekan mata uang Indonesia. Meski demikian, pelemahan rupiah diperkirakan masih terbatas karena terdapat sejumlah faktor eksternal yang dapat memberikan dukungan.

“Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi melemah terbatas, tertekan oleh harga minyak dunia yang kembali naik,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Harga Minyak Naik di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Kenaikan harga minyak dunia terjadi di tengah laporan serangan terhadap fasilitas milik perusahaan energi Arab Saudi. Mengutip Anadolu, Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan sebuah gedung administrasi milik Saudi Aramco di Dhahran, wilayah timur negara tersebut, menjadi sasaran serangan kelompok Ansarullah Yaman atau Houthi pada Selasa malam.

Serangan tersebut memicu kebakaran kecil. Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan tim tanggap darurat telah merespons kejadian itu dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan.

Pihak kementerian juga memastikan tidak ada laporan korban luka maupun korban jiwa akibat insiden tersebut.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 1,89 dolar AS atau 2,06% menjadi 93,74 dolar AS per barel di bursa New York Mercantile Exchange, berdasarkan laporan Xinhua.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember meningkat 1,93 dolar AS atau 1,84% menjadi 106,65 dolar AS per barel di bursa London ICE Futures Exchange.

Kenaikan harga minyak tersebut menjadi salah satu perhatian pelaku pasar karena turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Perkembangan situasi geopolitik dan harga energi global masih menjadi faktor yang dicermati investor.

Pernyataan Pejabat The Fed Beri Dukungan bagi Rupiah

Di tengah tekanan dari kenaikan harga minyak, rupiah berpeluang memperoleh dukungan dari koreksi indeks dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST). Pergerakan tersebut dipengaruhi pernyataan dovish pejabat Federal Reserve (The Fed), John C. Williams.

Lukman mengatakan Williams menilai kenaikan suku bunga pada tahun ini masih mungkin terjadi, tetapi tidak diperlukan kenaikan lanjutan pada 2027.

“Pejabat the Fed John Williams melihat sekali kenaikan suku bunga tahun ini, namun menilai tidak diperlukan kenaikan lebih lanjut pada tahun 2027,” ungkap Lukman.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar dalam menilai arah kebijakan moneter AS. Perubahan ekspektasi suku bunga dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Investor Menanti Data Inflasi Amerika Serikat

Selain perkembangan harga minyak dan kebijakan moneter, pelaku pasar masih cenderung menunggu atau wait and see menjelang pengumuman data inflasi AS pada Rabu malam.

Lukman menyebut inflasi inti AS diperkirakan meningkat dari 2,4% menjadi 2,5%. Sementara itu, inflasi umum diproyeksikan naik dari 3,4% menjadi 3,6%.

Data inflasi tersebut menjadi salah satu indikator yang dicermati investor untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed. Hasilnya berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan nilai tukar rupiah.

Dengan mempertimbangkan kenaikan harga minyak dunia, pergerakan indeks dolar AS, imbal hasil UST, serta penantian data inflasi, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online