IMF Peringatkan Tekanan Utang Negara Berkembang Imbas Konflik AS-Iran

Newswire
Newswire Rabu, 14 Oktober 2026 10:57 WIB
IMF Peringatkan Tekanan Utang Negara Berkembang Imbas Konflik AS-Iran

Logo International Monetary Fund (IMF) dalam rangka Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia, yang terletak di depan Kantor Pusat IMF, Washington DC, Amerika Serikat pada Kamis (17/4/2025). / Bloomberg-Kent Nishimura\r\n\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memperingatkan meningkatnya tekanan utang di negara-negara berkembang akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Negara pengimpor minyak, terutama yang memiliki beban utang tinggi, dinilai paling rentan menghadapi gejolak energi global.

Wakil Direktur Riset IMF Petya Koeva Brooks mengatakan negara-negara tersebut menghadapi tantangan untuk melindungi masyarakat dari dampak kenaikan biaya energi. Kondisi itu terjadi ketika perekonomian global masih dibayangi berbagai gangguan, sementara tingkat utang dan inflasi meningkat.

“Setelah perekonomian global mengalami berbagai gangguan, tingkat utang meningkat cukup signifikan dan pada saat yang sama, inflasi juga menjadi masalah,” jelas Brooks, melansir The Straits Times, pada Rabu (14/10/2026).

Brooks menambahkan, negara berkembang berpenghasilan rendah yang mengimpor minyak dan tidak terintegrasi dengan rantai pasok kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) juga rentan terdampak konflik. Kelompok negara tersebut dinilai menghadapi keterbatasan dalam merespons tekanan ekonomi.

“Bagi negara-negara rentan, porsi pembelanjaan masyarakat untuk energi dan pangan sangat besar sehingga kondisi ini lebih sulit dihadapi” papar Brooks.

IMF Dorong Restrukturisasi Utang Tepat Waktu

Menghadapi risiko tersebut, Brooks mendorong negara-negara berpenghasilan rendah yang mengalami kesulitan memenuhi kewajiban utang untuk segera mengupayakan penyelesaian dan restrukturisasi utang. Langkah tersebut dinilai penting agar persoalan pembayaran tidak semakin membebani perekonomian.

“Penyelesaian dan restrukturisasi utang selalu lebih baik daripada menundanya. Biaya restrukturisasi di kemudian hari akan jauh lebih besar,” kata Brooks.

Peringatan IMF itu berkaitan dengan risiko kenaikan biaya pinjaman yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Jika tekanan utang terus meningkat, negara-negara yang memiliki ruang fiskal terbatas akan menghadapi tantangan lebih besar dalam menangani dampak krisis energi dan menjaga daya beli masyarakat.

Perlambatan Investasi AI Berisiko Tekan Ekonomi Global

Di sisi lain, IMF menyoroti peran investasi kecerdasan artifisial dalam menopang prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Menurut laporan CNA, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1% pada 2026, didorong peningkatan investasi AI dan aktivitas ekonomi negara-negara maju.

Perekonomian negara-negara maju diproyeksikan tumbuh hingga 2,1% pada 2026. Negara yang terintegrasi dengan rantai pasok AI diperkirakan memiliki prospek pertumbuhan lebih tinggi.

Namun, IMF mengingatkan bahwa perlambatan investasi AI dapat memberikan dampak negatif terhadap produk domestik bruto (PDB) dan hubungan perdagangan antarnegara. Perubahan laju investasi tersebut berpotensi memengaruhi perekonomian negara yang bergantung pada produksi maupun pasokan teknologi terkait AI.

Dalam skenario perlambatan produksi dan investasi, PDB AS diperkirakan dapat turun hingga 0,8%. Dampaknya juga berpotensi menjalar ke negara-negara Asia yang menjadi pemasok, dengan penurunan PDB sebesar 0,4% pada 2028.

IMF turut menyoroti kemungkinan penurunan harga aset dan pengetatan kondisi keuangan akibat pergeseran investasi tersebut. Kondisi itu dapat memengaruhi tingkat konsumsi, khususnya di AS, sehingga menambah tekanan terhadap aktivitas ekonomi.

Sebaliknya, IMF memproyeksikan PDB global dapat meningkat hingga 0,6% pada 2029 dalam skenario percepatan investasi dan pemanfaatan teknologi mutakhir untuk investasi AI. Proyeksi tersebut menggambarkan perbedaan potensi dampak ekonomi global bergantung pada perkembangan investasi teknologi ke depan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online