PERTUMBUHAN EKONOMI : Angkutan Udara Picu Inflasi Jogja Capai 0,63%

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jum'at, 07 Agustus 2015 01:20 WIB
PERTUMBUHAN EKONOMI : Angkutan Udara Picu Inflasi Jogja Capai 0,63%

Ilustrasi inflasi (JIBI/Harian Jogja/Reuters)

Pertumbuhan ekonomi untuk angkutan udara menyumbang inflasi terbesar pada Juli 2015.

Harianjogja.com, BANTUL—Angkutan udara menjadi komoditas yang menyumbang inflasi Jogja terbanyak selama Juli 2015. Inflasi Jogja tercatat 0,63%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Bambang Kristianto mengatakan, inflasi dipicu kenaikan harga-harga yang menyebabkan berubahnya angka indeks harga konsumen (IHK). Beberapa komoditas mengalami kenaikan harga sehingga menyumbang terjadinya inflasi di antaranya, angkutan udara naik 8,38% dengan memberikan andil 0,13%.

“Untuk daging ayam ras naik 9,50 persen dengan memberikan andil sebesar 0,09 persen,” ujar dia di Kantor BPS DIY, Bantul, Senin (3/8).

Komoditas lain yang mempengaruhi inflasi adalah cabai rawit, tarif kereta api, dan angkutan antar kota. Sementara, komoditas yang menghambat inflasi adalah bawang merah, telur ayam ras, ikan keranjang, tomat sayur, dan emas perhiasan.

Menurutnya, ada enam kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan angka indeks yakni kelompok bahan makanan naik 1,17%; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau naik 0,43%; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar naik 0,23%; kelompok sandang naik 0,51%; kelompok kesehatan naik 0,20%; dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan naik 1,39%. Sebaliknya, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga turun 0,07%.

“Laju inflasi tahun kalender 2015 [Juli terhadap Desember 2014] sebesar 1,59 persen, sedangkan laju inflasi year on year sebesar 5,45 persen,” ujar dia.

Sementara, kondisi perekonomian DIY diperkirakan bertumbuh hingga akhir 2015. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIY Arief Budi Santoso mengatakan, pertumbuhan ekonomi di DIY diperkirakan mencapai 5% hingga 5,1%. Hal itu disebabkan beberapa faktor antara lain dari sektor pertanian yang mulai panen serta sektor wisata yang bergerak karena musim liburan.

“Sektor wisata bisa nyambung ke mana-mana. Misalnya ke sektor perdagangan, makanan, dan minuman,” ujar dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis