KURS RUPIAH : Paket Ekonomi Tak Berdampak Bagi Bisnis Perhotelan?

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Minggu, 13 September 2015 17:20 WIB
KURS RUPIAH : Paket Ekonomi Tak Berdampak Bagi Bisnis Perhotelan?

Kurs rupiah yang lemah dan ekonomi yang terpuruk coba diatasi dengan menyediakan paket ekonomi.
?
Harianjogja.com, JOGJA- Paket Ekonomi yang digulirkan pemerintah dinilai tidak akan berdampak positif dalam waktu dekat bagi bisnis perhotelan?.
?
Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY ?Deddy Pranawa Rebana mengatakan, paket ekonomi yang dikeluarkan pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi saat ini belum mampu membantu sektor perhotelan.

"Kami masih belum yakin, paket ekonomi tersebut bisa membantu (bisnis perhotelan) dalam tiga hingga empat bulan ke depan," ujar Deddy kepada Harianjogja.com, Sabtu (12/9/2015).

Menurut Deddy, p?aket kebijakan ekonomi tersebut bisa berdampak pada dunia perhotelan pada delapan hingga satu tahun ke depan. Dia berharap, pemerintah mampu memberikan stimulus yang benar-benar dapat meningkatkan kembali bisnis perhotelan yang saat ini lesu. ?

Dia mengakui, persoalan yang dihadapi saat ini cukup pelik. Sebab, lesunya bisnis perhotelan juga terkait dengan kondisi ekonomi global dan lemahnya daya beli masyarakat. "Masalah yang kami hadapi sangat terkait dengan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia dan ekonomi dunia. ?Untuk membantu dunia perhotelan, pemerintah harus menormalkan dulu kondisi ekonomi sesegera mungkin," katanya.
?
Meski saat ini PHRI DIY belum melakukan penghitungan ril kerugian yang ditanggung sektor perhotelan akibat perlambatan ekonomi saat ini, namun pihaknya memperkirakan potensi lost yang dialami hotel-hotel di DIY mencapai minimal 20%.

"Saat ini, kondisi hotel-hotel dalam taraf sesak nafas. Terutama untuk non-bintang. Bahkan sudah ada yang mengistirahatkan karyawannya ?akibat sepinya pengunjung," tandasnya.
? ?
Dijelaskan dia, banyak pengelola hotel yang terpaksa merupakan beberapa karyawannya untuk mengurangi biaya operasional. Namun Deddy ?mengaku jumlah karyawan yang dirumahnya tidak terlalu banyak.

"Saat ini kami hanya bisa melakukan efisiensi yang lebih ketat. Itu dilakukan agar kami bisa tetap bernafas?," ujarnya.
??
Untuk kembali meningkatkan bisnis perhotelan, PHRI DIY berharap kondisi ekonomi kembali membaik dan pemerintah lebih mempermudah aparatnya untuk rapat di hotel-hotel. Terutama, aparat di tingkat pemerintah daerah, Kabupaten dan kota. Sementara, pemerintah daerah diminta lebih aktif mempromosikan pariwisata di daerahnya baik nasional hingga mancanegara.

"Kami berharap Desember nanti bisnis perhotelan kembali bernafas. Sebab, saat itu ada momentum libur Natal dan tahun baru," ujarnya.

Harapan senada disampaikan Manager Hotel Pandanaran Jogja, ?Atin Juni Sapto Wibowo. Menurutnya, strategi yang dilakukan untuk tetap bertahan dalam kondisi saat ini adalah dengan merangkul beragam lembaga dan komunitas untuk melakukan kegiatan meeting, incentive, convention and exhibition (MICE).

"Kami akan konsen menggarap pasar lokal dulu. Sebab, pengaruh dolar tidak berpengaruh pada peningkatan jumlah wisatawan mancanegara ke Jogja," ujar Atin.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online