Warga melintas di kawasan pembangunan NYIA di Kecamatan Temon, Kulonoprogo, beberapa waktu lalu. Harian Jogja-Beny Prasetya
Harianjogja.com, JOGJA—Dari sisi lapangan usaha, sektor pertambangan menjadi penyumbang tertinggi pertumbuhan ekonomi triwulan I/2018 jika dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya (year on year), nilainya yakni 8,8%. Sedangkan secara keseluruhan, perekonomian DIY tumbuh sebesar 5,36% atau lebih tinggi dari rata-rata nasional yang mencapai 5,06%.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY JB Priyono mengatakan urutan tiga terbesar penyumbang pertumbuhan perekonomian DIY dari sisi lapangan usaha yakni pertambangan dan penggalian 8,8% diikuti kontruksi dengan nilai 7,38% dan penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 6,52%. Priyono menjelaskan sektor usaha pertambangan dan penggalian ini didominasi oleh penambangan pasir untuk material bandara. Pasalnya jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, belum ada kecenderungan peningkatan sektor ini secara drastis. "Artinya sektor yang ada kaitannya dengan pembangunan bandara, termasuk menyediakan material ini, sudah mulai menggeliat," katanya dalam acara rilis BPS, Senin (7/5/2018).
Priyono mengatakan hal itu juga berkaitan dengan peningkatan di sektor usaha kontruksi yang menjadi penyumbang terbesar kedua pada triwulan I ini. Menurutnya kedua sektor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Saat pembangunan bandara sudah mulai dilakukan, infrastruktur pendukung pun ikut dibangun sehingga lapangan usaha di sektor tersebut menyerap lebih banyak tenaga kerja dan menggerakkan perekonomian masyarakat.
Namun demikian Priyono mengakui share sektor usaha pertambangan dan penggalian pada struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sangatlah kecil, hanya mencapai 0,49%. Meskipun naik tajam, sektor ini tak berkontribusi banyak pada pada besaran pertumbuhan ekonomi. Andil pertumbuhan besar malah disumbang oleh industri pengolahan sebesar 0,78% dengan nilai struktur PDRB 10,18%. Urutan andil pertumbuhan terbesar berikutnya yakni konstruksi dan informasi serta komunikasi dengan nilai masing-masing 0,65%.
Priyono menuturkan hasil tersebut didapatkan karena peran kategori terhadap pembentukan PDRB selain dari sisi tingkat pertumbuhan juga dihitung dari sisi kontribusi Andil pertumbuhan suatu kategori/komponen merupakan perkalian antara selisih nilai tambah brutonya atas dasar harga konstan 2010 pada periode berjalan dengan periode sebelumnya dengan laju pertumbuhan PDRB. "Meski pertambangan pertumbuhannya sangat tinggi, sharenya rendah. Sedangkan sektor industri pengolahan pertumbuhannya cukup tinggi dan didukung dengan share yang juga besar," imbuhnya.
Secara keseluruhan, Priyono mengatakan perekonomian DIY triwulan I 2018 dibanding triwulan I 2017 (year on year) tumbuh 5,36%. Lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,25% dan juga lebih tinggi dibanding triwulan I 2017 yang tumbuh 5,16%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.