73 Kuota Jalur Mandiri Unsoed Disetting, Calon Maba Dimintai Uang
KPK menemukan dugaan pengaturan 73 dari 245 kuota PMB jalur mandiri Unsoed. Penyidik juga mengungkap tiga klaster perkara
Kapal kargo melakukan bongkar muat di terminal petikemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (25/4/2018)./Bisnis Indonesia
Harianjogja.com, JAKARTA—Tren pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencapai 6,05% sepanjang tahun ini. Situasi ini memberikan dampak negatif dan positif. Bagi pelaku ekspor, sebenarnya situasi ini laiknya bonus. Kendati demikian situasi tersebut tidak berjalan dalam tataran ideal.
Salah satu penyebab adalah ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor dan kinerja ekspor yang masih mengandalkan komoditas mentah membuat performa ekspor menjadi tak maksimal.
Mayoritas komoditas ekspor andalan di Tanah Air memang mencatatkan kenaikan ekspor sepanjang Januari-Mei tahun ini, tetapi tidak signifikan jika mempertimbangkan adanya faktor pelemahan rupiah.
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan sektor manufaktur didera problem ketergantungan bahan baku impor yang cukup tinggi. Alhasil, ketika rupiah melemah, biaya impor bahan baku menjadi lebih tinggi, sehingga menekan para pelaku industri.
“Kalau kita lihat, dengan impor kita yang masih besar, pelemahan rupiah ini justru menjadi tsunami kecil bagi sektor manufaktur, bahkan manufaktur yang berbasis ekspor sekalipun,” ujar Enny.
Dia juga menilai kenaikan nilai ekspor sejumlah komoditas ekspor utama yang tidak terlalu signifikan dan diiringi oleh penurunan permintaan di negara tujuan lebih disebabkan oleh tren di pasar internasional.
“Nilai ekspor memang tumbuh moderat, tetapi volumenya tetap atau paling tumbuh tipis. Pasalnya, yang memengaruhi adalah kondisi permintaan global, bukan nilai tukar rupiah,” ujarnya.
Selama permintaan secara global masih melempem, dia menilai aktivitas ekspor tidak akan mengalami perubahan.
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Shinta W. Kamdani mengatakan sekalipun ada beberapa industri berbasis ekspor yang diuntungkan dari depresiasi rupiah, masih banyak lini industri yang gagal memanfaatkannya untuk mendorong ekspor.
“Industri manufaktur yang paling diuntungkan adalah yang menggunakan bahan baku dalam negeri dan tidak menggunakan bahan baku impor dan tentu saja ini sangat terbatas.”
Belum lagi, daya saing komoditas ekspor andalan Indonesia masih kalah dengan negara tetangga. Masih banyaknya rencana kerja sama perdagangan internasional yang tertunda juga membuat komoditas ekspor potensial sulit berkembang.
Selain itu, ketergantungan ekspor Indonesia terhadap komoditas mentah juga masih tinggi. Alhasil, ketika harga komoditas rendah, kontribusi ekspor dari sektor tersebut juga rendah.
Sejumlah pelaku usaha di sektor tersebut juga sepakat bahwa momentum pelemahan rupiah memang tidak dimanfaatkan secara maksimal. Alhasil, nilai ekspor tidak meningkat signifikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis Indonesia
KPK menemukan dugaan pengaturan 73 dari 245 kuota PMB jalur mandiri Unsoed. Penyidik juga mengungkap tiga klaster perkara
Labuan Bajo ditargetkan pulih dan makin tangguh pascagempa M7,7 melalui penguatan keselamatan, manajemen risiko, dan destinasi wisata darat
Luhut menyebut integrasi AI dalam E-Katalog dapat menghemat anggaran 20%-30% serta meningkatkan transparansi pengadaan pemerintah.
Festival Mustika Rasa resmi dibuka di Alun-Alun Selatan Jogja, Sabtu (29/8/2026). Festival kuliner yang melibatkan ratusan UMKM lokal ini membawa pesan tentang
Bala Mataram Rescue yang tumbuh dari suporter PSIM kini memiliki ambulans sendiri berkat bantuan Brajamusti Rantau untuk misi kemanusiaan
Ribuan warga mengikuti senam di Alun-Alun Selatan Jogja dan menggalang donasi lebih dari Rp10 juta untuk korban gempa NTT.