Properti Mahal, Penerapan LTV di Jogja Belum Relevan

Holy Kartika Nurwigati
Holy Kartika Nurwigati Sabtu, 04 Agustus 2018 08:30 WIB
Properti Mahal, Penerapan LTV di Jogja Belum Relevan

Ilustrasi rumah murah bersubsidi/JIBI

Harianjogja.com, JOGJA—Bank Indonesia membebaskan loan to value (LTV) untuk uang muka kepemilikan rumah pertama. Kebijakan ini dinilai akan memberikan peluang bagi pelaku sektor properti dalam memasarkan produknya.

"Karena dengan kebijakan ini, konsumen properti, terutama untuk perumahan akan memiliki opsi lebih bagi calon konsumen. Itu akan menjadi daya tarik, pasar [properti residensial] akan lebih bergairah. Manakala dia belum memiliki cukup uang, bisa membeli rumah, baik dengan DP (down payment) yang nol persen, atau DP rendah," ujar Ketua Real Estate Indonesia (REI) DPD DIY, Rama Adyaksa Pradipta kepada Harian Jogja, Jumat (3/8).

Kendati uang muka rendah, kata Rama, kompensasi yang harus ditanggung calon konsumen perumahan yakni cicilan atau angsuran yang dibayarkan akan lebih tinggi. Rama mengungkapkan tren penjualan rumah pertama di Jogja cukup tinggi peminatnya. Hal itu disebabkan rumah pertama bagi sebagian besar masyarakat merupakan kebutuhan mendasar.

"Hanya untuk di Jogja, produk perumahan yang tersedia di pasar saat ini tidak banyak yang bisa dijangkau oleh segmentasi konsumen rumah pertama," ungkap Rama.

Rumah pertama banyak diminati atau dibutuhkan oleh masyarakat yang membutuhkan rumah dengan harga pada kisaran Rp300 juta atau di bawah harga tersebut. Sementara itu, kata dia, penyediaan produk perumahan pada harga itu belum banyak tersedia.

Melihat kondisi harga properti, terutama untuk produk hunian yang tinggi di Jogja, Rama menilai penerapan kebijakan LTV oleh Bank Indonesia belum relevan untuk diterapkan di kota ini. Terlebih pembeli rumah pertama, kebanyakan berasal dari kalangan seperti PNS golongan tiga ke atas, guru yang telah bersertifikasi atau dosen muda.

Produk rumah yang di jual di Jogja sebagian besar dipasarkan dengan harga di atas Rp300 juta. Sedangkan konsumen rumah pertama biasanya memiliki kemampuan mencicil sekitar Rp2 juta sampai Rp3 jutaan per bulannya.

"Sehingga, tidak terlalu [relevan] untuk diterapkan di Jogja, karena mereka yang bisa membeli rumah seharga Rp300 juta biasanya sudah memiliki kemampuan untuk menyediakan uang muka," papar Rama.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online