Sejarah Terboyo Terkuak dari Peta Kuno Semarang Tahun 1695
Peta kuno karya MD Roy tahun 1695 mengungkap nama Terboyo telah tercatat sebelum era Bupati Suryadi Menggolo V.
Alat berat (ekskavator) memindahkan batu bara ke atas mobil truk dari atas kapal tongkang di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (3/4/2018)./JIBI/Bisnis Indonesia-Paulus Tandi Bone
Harianjogja.com, JAKARTA--Tingginya serapan pasar membuat sejumlah emiten pertambangan batu bara optimistis dapat menjual seluruh batu hitam yang akan produksi hingga akhir 2018.
Moncernya penjualan batu hitam antara lain dialami oleh PT ABM Investama Tbk. (ABMM), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), dan PT United Tractors Tbk. (UNTR).
Adrian Sjamsul, Direktur dan Chief Financial Officer ABM Investama, mengungkapkan perseroan berencana memproduksi batu bara sebanyak 10 juta ton sepanjang tahun ini.
Hingga September 2018, dua anak usaha ABMM telah memproduksi batu bara sejumlah 7,1 juta ton. Volume itu terdiri atas produksi tambang PT Tunas Inti Abadi (TIA) di Kalimantan Selatan sebanyak 3,4 juta ton dan PT Mifa Bersaudara di Aceh sebanyak 3,7 juta ton.
Sampai akhir 2018, kedua tambang tersebut diharapkan mencapai target produksi 10 juta ton. Apabila tercapai, ABMM membukukan kenaikan volume produksi 25,94% year-on-year (yoy) dari realisasi produksi pada 2017 yang tercatat sebesar 7,49%.
“Sampai dengan akhir tahun, dari rencana produksi sudah habis dengan pelanggan lama kami,” tutur Adrian saat dihubungi Bisnis, Rabu (10/10/2018).
Seluruh produk batu bara Mifa di Aceh dilepas ke pasar ekspor seperti Tiongkok, India, dan Thailand. Dari sisi geografis, lokasi tambang itu diuntungkan karena dekat dengan negara-negara tersebut.
Seiring dengan permintaan ekspor yang terus bertumbuh, perusahaan berupaya memacu produksi tambang Aceh menjadi 8 juta—10 juta ton pada 2019. Selain pasar existing, ABMM juga membuka pasar baru, seperti Vietnam.
Adrian menambahkan salah satu tantangan industri batu bara pada kuartal III/2018 ialah harga yang agak turun dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Namun, perusahaan dapat meredam fluktuasi dengan mengontrol biaya operasional.
“Harga komoditas ini memang berfluktuasi, jadi kami fokus mengontrol ongkosnya,” imbuhnya.
Senada, Corporate Secretary United Tractors Sara K. Loebis optimistis anak usahanya, PT Tuah Turangga Agung (TTA) mampu menjual 6,8 juta ton batu bara hingga akhir 2018. Pada tahun ini, entitas Grup Astra itu mengerek target penjualan batu hitam sebesar 7,42% dari realisasi penjualan 6,3 juta ton pada 2017.
Sara menyampaikan seluruh batu bara yang dijual berasal dari produksi tambang yang dioperasikan oleh TTA. Sepanjang Januari—Agustus 2018, perseroan sudah menjual 5,58 juta ton, naik 20,27% yoy dari periode 8 bulan pertama 2017 sejumlah 4,64 juta ton.
“Sampai akhir tahun penjualan atau produksi batu bara TTA bisa mencapai 6,8 juta ton,” ujarnya, Senin (8/10/2018).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Peta kuno karya MD Roy tahun 1695 mengungkap nama Terboyo telah tercatat sebelum era Bupati Suryadi Menggolo V.
Pertamina mengungkap program streamlining anak usaha yang telah dilakukan pada semester I/2026 setelah mendapat arahan Presiden Prabowo.
KAI Daop 1 Jakarta menyiapkan 234.815 kursi KA Jarak Jauh selama libur HUT ke-81 RI, 13-18 Agustus 2026.
Bendera Merah Putih sepanjang 1 kilometer akan dibentangkan dalam Parade Kebangsaan di Jogja dengan lebih dari 2.000 peserta.
Gerhana matahari total di Eropa memicu lonjakan harga hotel hingga lebih dari 500 persen. Namun di saat yang sama, Spanyol menghadapi darurat kebakaran hutan de
Dinsosnakertrans Jogja mengkaji perluasan penerima Santunan Kematian di luar desil 1-2 dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran daerah.