KPK Dalami Aliran Rp106,3 Miliar yang Diduga ke Nusron Wahid
KPK menelusuri aliran dana Rp106,3 miliar dalam kasus ATR/BPN yang diduga mengalir ke Nusron Wahid dan terkait layanan pertanahan.
Fajar Ryandoko (berdiri), pemilik Speakless bersama peserta workshop/ist-Speakless
Harianjogja.com, JOGJA—Produk kerajinan berbahan dasar kulit berkembang pesat di Jogja dan sekitarnya. Mencoba bersaing di pasar yang sama, Speakless menghadirkan produk yang agak berbeda yaitu kerajinan kulit untuk alat tulis. Ia pun memiliki idealisme yaitu menghadirkan produk 100% buatan tangan.
Beberapa waktu terakhir, usaha leather goods alias barang-barang berbahan dasar kulit binatang cukup berkembang di kalangan pekerja kreatif. Produk berbahan dasar kulit ini menjadi tren karena menghadirkan kesan vintage bagi yang memakainya. Umumnya, bahan kulit dibuat menjadi dompet dan tas.
Speakless kemudian menghadirkan produk dengan kegunaan yang lain yaitu untuk alat tulis. Sejak 2017, Fajar Ryandoko atau yang biasa dipanggil Ryan mulai melirik usaha kreatif leather goods. Tanpa latar belakang pengetahuan tentang produk kulit, ia tertarik untuk menggeluti dunia usaha ini setelah mengikuti sebuah lokakarya produk kulit bagi pemula di Institut Seni Indonesia (ISI) pada akhir Oktober 2017.
“Awalnya memang enggak tahu [produk] kulit itu bentuknya gimana, tapi kemudian diajak teman ikut workshop ternyata saya tertarik,” tutur Ryan ketika ditemui Harian Jogja belum lama ini.
Mulanya ia tidak begitu merasakan kesulitan membuat produk kulit. Ia sepenuhnya tertarik belajar menjahit kulit pada lokakarya tersebut. Namun karena masih minim pengalaman, ia merasa hasilnya belum rapi. Kemampuannya diasah terus dan menjadi modal utama membuka Speakless.
Laki-laki lulusan Jurusan Gizi dari Poltekkes Kemenkes Jogja ini menyebut memilih produk kulit untuk alat tulis karena sangat menggemari dunia alat tulis. Melalui Speakless, Ryan menawarkan berbagai seperti book holder, tempat pensil, serta buku catatan perjalanan. Ia mengerjakan sendiri seluruh proses produksinya, mulai dari pemolaan hingga perangkaian.
Seluruh proses yang dilakukan di Speakless mengandalkan kreativitas tangannya alias handmade. Ia mencoba untuk konsisten tidak menggunakan mesin untuk mempertahankan keunikan produknya. Dalam sekali produksi, craftsmanship kelahiran Pati ini cukup membutuhkan waktu satu hari saja untuk membuat pesanan klien.
Namun, ia memberikan rentang waktu sekitar satu minggu bagi pemesan, karena pencarian bahan hingga pengiriman barang masih dilakukannya sendiri.
Selama ini ia cukup mudah mendapatkan bahan produk kulit di Jogja. Ia menggunakan bahan berjenis nabati dari kulit sapi yang disamak dengan bahan nabati, misalnya saja akar akasia. Menurut Ryan, penggunaan bahan nabati memungkinkan produk kulit bisa diwarna kembali maupun diukir.
Aslinya, produk kulit berbahan kulit sapi akan menghasilkan warna natural yang tampak seperti merah muda. Namun menurut Ryan menuturkan bahwa kebanyakan kliennya meminta produk kulit yang dibuat itu diberi warna lain, misalnya saja cokelat maupun kuning tua.
Padahal warna natural kulit bisa berubah seiring berjalannya waktu. “Warnanya akan cenderung menggelap setelah enam bulan, tergantung kualitas kulitnya,” jelasnya.
Ryan masih belum memiliki toko untuk menjajakan produk Speakless. Seluruh pemesanan dapat dilakukan secara daring melalui Instagram @speakless.co. Meski begitu, ia mencoba berkolaborasi dengan pihak ketiga untuk pemasaran produknya. Kini hasil karyanya juga dapat dijumpai di Artlinx Store Jogja.
Satu-Satunya
Dalam sebulan Ryan mengaku rata-rata dapat memperoleh sepuluh pesanan produk. Karena dibuat sepenuhnya menggunakan tangan, pemesan akan mendapatkan produk yang hanya diproduksi satu-satunya.
Jika klien menginginkan produk yang sama dengan produk sebelumnya, Ryan menjamin hal tersebut tidak akan menjadi sama persis sebab pasti ada perbedaan dalam setiap produksinya.
Produk Speakless dibanderol dengan harga Rp100.000 – Rp300.000 tergantung dengan permintaan pemesan atas model dan bahan yang digunakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPK menelusuri aliran dana Rp106,3 miliar dalam kasus ATR/BPN yang diduga mengalir ke Nusron Wahid dan terkait layanan pertanahan.
Dua penembakan di Afrika Selatan menewaskan 27 orang, masing-masing di dekat Johannesburg dan kawasan pinggiran Cape Town.
Aldila Sutjiadi/Erin Routliffe menjuarai WTA 500 Singapore Open 2026 setelah mengalahkan pasangan China Tang Qianhui/Xu Yifan.
Leo Rolly Carnando tumbuh di pinggiran Klaten. Dari raket kecil dan latihan bersama ayah, dia kini tampil di panggung bulu tangkis dunia.
Kementan menyiapkan anggaran Rp17 triliun untuk ekosistem peternakan terintegrasi. Lima kawasan ditargetkan rampung pada 2027.
Korban tewas di Gaza mencapai 74.016 orang sejak 7 Oktober 2023. Sebanyak 175.068 warga Palestina dilaporkan terluka.