Advertisement
TARIF DASAR LISTRIK NAIK: Industri Kerajinan Terhimpit Listrik & Solar
Advertisement
[caption id="attachment_395902" align="alignleft" width="370"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/04/11/tarif-dasar-listrik-naik-industri-kerajinan-terhimpit-listrik-solar-395896/kerajinan-ilustrasi-solopos-burhan-aris-nugraha" rel="attachment wp-att-395902">http://images.harianjogja.com/2013/04/kerajinan-ilustrasi-Solopos-Burhan-Aris-Nugraha-370x239.jpg" alt="" width="370" height="239" /> Foto Ilustrasi Industri Kerajinan
JIBI/Solopos/Burhan Aris Nugraha[/caption]
JOGJA–Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) tahap kedua akan semakin mempersulit dunia industri. Salah satunya industri kerajinan, akan semakin terhimpit karena tidak hanya menghadapi kenaikan TDL tetapi juga langkanya bahan bakar minyak yakni solar.
Advertisement
Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan (Asmindo) DIY Yuli Sugiyanto mengatakan kenaikan TDL kali kedua ini akan semakin memberatkan industri kerajinan.
“Prinsipnya kalau bisa memilih tarif listrik tidak usah naik. Karena ini akan semakin berdampak pada UKM. Biaya produksi nanti akan mempengaruhi harga jual, belum lagi langkanya solar akan menghambat distribusi barang,” ujar Yuli saat dihubungi Harian Jogja, Kamis (11/4).
Akibat kenaikan TDL dan langkanya solar dapat mempengaruhi pula harga bahan baku maupun bahan pelengkap produksi.
Yuli mengungkapkan dugaan kenaikan biaya produksi dapat mencapai 15% sampai 20%.
“Kenaikan TDL pertama saja kenaikannya paling tidak sampai sepuluh persen. Dengan kenaikan kedua ini tentunya akan semakin besar beban biayanya,” kata Yuli.
Hal tersebut juga dibenarkan Ketua DPP Asmindo Ambar Tjahjono. Menurutnya bersamaan dengan kelangkaan solar, kenaikan TDL akan sangat mengganggu iklim bisnis.
Pengaruh kenaikan TDL terhadap biaya produksi akan berdampak sekitar 5%.
“Sementara sulitnya solar dan BBM akan ada kenaikan sekitar 12 persen di sektor jasa, kalau dengan TDL akan ada kenaikan 17 persen. Maka dengan kenaikan UMR pun akan ada masalah besar. Maka dunia usaha juga akan kelabakan menghadapi kompetisi dengan negara lain,” terang Ketua ASEAN Furniture Industry Council ini.
Ambar menambahkan kenaikan TDL dan langkanya solar yang akan semakin membebani biaya produksi. Beban biaya tersebut tak dipungkiri akan berdampak terhadap harga jual, sehingga permintaan ekspor pun ikut berdampak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rahasia Kongo Gumi Bertahan 1.400 Tahun Lebih
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
Advertisement
Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




