Advertisement
Pertamina Sebut Petral Layak Dipertahankan, Apa Alasannya?
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA-Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan keberadaan Pertamina Energy Trading Limited (Petral) masih layak dipertahankan, sehingga setiap wacana pembubaran anak perusahaan Pertamina itu harus dikaji ulang.
"Proses transparansi Petral silakan, tapi jangan semangatnya ingin membubarkan," kata Ali Mundakir di Kampus Univertsitas Proklamasi, Selasa (3/12/2014).
Advertisement
Manurut dia, selama ini Petral memiliki peran yang vital dalam menjaga kelangsungan penyaluran BBM ke Indonesia. Mengenai pentingnya kiprah Petral dalam menjaga pengadaan BBM di tanah air, ia mengilustrasikan, pada Oktober 2013 pengadaan minyak mentah di Indonesia terancam kritis. Kala itu perbankan Indonesia kesulitan menyediakan dana dalam bentuk dolar AS, sementara pengadaan impor minyak mentah membutuhkan 100 juta dolar AS. Namun situasi dapat diselamatkan oleh Petral karena perusahaan itu memiliki fasilitas dana 5,1 miliar dolar AS dari perbankan di Singapura.
"Bayangkan kalau tidak ada Petral apa yang terjadi saat itu, pasokan minyak mau dari mana, sementara bank-bank saat itu tidak ada yang bisa menyediakan dolar. Jadi jangan sampai lupa sejarah," kata Ali.
Kebijakan impor minyak mentah, menurut dia, hingga saat ini tetap perlu dilakukan Indonesia. Sebab produksi minyak yang ada tidak mampu mencukupi kebutuhan domestik.
Sementara itu, ia juga menilai sejak awal tidak ada yang janggal dengan pembentukan Petral. Alasannya, perusahaan minyak bonafit di luar negeri hampir rata-rata memiliki anak usaha trading semacam Petral.
"Kami selalu dituntut seperti Shell, Cevron, padahal mereka semua memiliki "best practice" perusahaan trading. Lalu kalau kami punya apa salahnya," kata dia.
Meski demikian, menurut dia, jika yang dipersoalkan adalah transparansi pihaknya siap mendukung.
"Untuk trasparansi silakan dikawal. Tapi kalau soal intervensi sebagai perusahaan pemerintah siapa yang bisa mengintervensi?," kata dia.
Sebelumnya, Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri mempertanyakan efektivitas kinerja PT Petral. Ia menilai keberadaan perusahaan itu justru dinikmati oleh Singapura melalui pajak impor yang dikeluarkan Indonesia.
"Apalagi ada fee shipping (ongkos pengapalan) sebesar US$80.000 dolar setiap pengiriman minyak ke Indonesia," kata Faisal dalam seminar Reformasi Tata Kelola Migas di Universitas Proklamasi, Yogyakarta, Selasa (2/12/2014)
Faisal juga menilai dengan keberadaan bank-bank luar negeri yang membiayai PT Petral dapat memicu keberadaan mafia migas dalam bisnis impor migas Indonesia.
"PT Petral ini dibiayai bank-bank asing, lalu buat apa? Kami ingin bisnis migas Indonesia lebih berkah lagi," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rahasia Kongo Gumi Bertahan 1.400 Tahun Lebih
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
Advertisement
Jadwal lengkap KRL Jogja Solo Minggu 5 April 2026, tarif Rp8.000
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




