Advertisement

Kejayaan Cengkih Indonesia Harus Dikembalikan

Kamis, 04 Desember 2014 - 16:40 WIB
Nina Atmasari
Kejayaan Cengkih Indonesia Harus Dikembalikan

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Indonesia sampai saat ini masih tercatat sebagai negara penghasil cengkih terbesar di dunia dengan produksi mencapai 73.000 ton per tahun dengan luas lahan mencapai 31.450 hektare (ha). Namun potensi ini belum terkelola dengan baik.

Untuk mendongkrak potensi ini komunitas cengkih seperti petani, asosiasi pedagang hingga industri pengguna produk turunan cengkih mendeklarasikan organisasi non-pemerintah, ASEAN Clove Spice Association (ACSA) atau Asosiasi Rempah Cengkih ASEAN.

Advertisement

Deklarasi ACSA ini pada September 2013, namun setahun kemudian baru terdaftar di Kemenkum HAM yang kemudian dilakukan deklarasi secara resmi di Jogja, Rabu (3/12/2014).

Direktur Tanaman Rempah dan Penyegar Kementerian Pertanian Azwar Abu Bakar mempertegas bahwa rempah Indonesia memiliki kualitas terbaik di dunia.

"Kita [Indonesia] dulu di jajah karena rempah-rempah kita berkualitas. Kini, kita menjadi negara produsen sekaligus konsumen cengkih terbesar dunia," katanya dalam deklarasi di Hotel Royal Ambarrukmo Jogja itu.

Sayangnya, tingkat produksi cengkih di Indonesia justru kalah dibandingkan Tiongkok. Di negara ini setiap hektare lahan mampu menghasilkan 11.500 kilogram cengkih. Sementara Indonesia hanya 2.202 kilogram.

Masih rendahnya tingkat produksi cengkih di Indonesia, karena trauma yang dihadapi petani cengkih, ketika harga jatuh beberapa tahun yang lalu.

"Akibatnya, banyak pohon cengkih yang dibiarkan terbengkelai dan tidak dirawat, bahkan ditebang. Butuh waktu yang panjang untuk memperbaiki tanaman cengkih yang kini masih hidup," tambahnya.

Meski demikian, permintaan cengkih yang meningkat untuk kepentingan industri dan harga cengkih yang relatif mahal, yaitu Rp130.000 per kilogramnya, mendorong petani kembali ke tanaman cengkih.

Ketua ACSA I Ketut Budhyman mengatakan pembentukan asosiasi ini diharapkan bisa membantu membangkitkan kembali sektor cengkih Indonesia.

"Ini tantangan sekaligus kesempatan emas untuk meregionalisasikan, memprofesionalkan, dan menggerakkan pemangku kepentingan cengkih di Indonesia," kata Ketua ACSA I Ketut Budhyman.

ACSA, kata dia, merupakan organisasi yang mengadvokasi kepentingan pemangku kepentingan komunitas cengah di Indonesia dan ASEAN. Organisasi ini dibentuk guna membantu sektor rempah cengkih di tingkat ASEAN untuk memperjuangkan kesejahteraan komunitas sektor cengkih, seperti petani.

"Organisasi ini menjadi wadah pemangku kepentingan cengkih Indonesia untuk menjaga keberlangsungan cengkih. Cengkih kita memiliki kekhasan di dunia, istimewa," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Jadwal lengkap KRL Jogja Solo Minggu 5 April 2026, tarif Rp8.000

Jadwal lengkap KRL Jogja Solo Minggu 5 April 2026, tarif Rp8.000

Jogja
| Minggu, 05 April 2026, 00:47 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement