Advertisement
PERTUMBUHAN EKONOMI : Harga Komoditas Kerek Inflasi Jogja
Advertisement
Pertumbuhan ekonomi, kenaikan harga beras dan bensin mengerek angka inflasi Jogja sebesar 0,15%
Harianjogja.com, JOGJA—Kenaikan harga sejumlah komoditas selama Maret menjadi penyebab terjadinya inflasi Kota Jogja sebesar 0,15%.
Advertisement
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), perkembangan harga berbagai komoditas selama Maret 2015 menunjukkan adanya kenaikan. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga sehingga menyumbang terjadinya inflasi di antaranya, beras dan bensin naik 4,01% dan 4,21% dengan masing-masing memberikan andil 0,15%.
Begitu juga dengan komoditas bawang merah naik 43,97% memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,13%. Rokok kretek filter naik 2,84% dan memberikan andil sebesar 0,04%. Kenaikan bahan bakar rumah tangga, daging sapi, sewa rumah, sepeda motor, mobil masing-masing memberikan andil sebesar 0,01%.
Menurut Kepala BPS DIY, Bambang Kristianto, inflasi di Jogja terjadi akibat kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari posisi 116,52 pada Februari menjadi 116,69 pada Maret. Dia menyebutkan, terdapat empat kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan IHK. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami kenaikan 0,53%, kelompok sandang naik 0,43%, kelompok kesehatan naik sebesar 0,21% dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan naik sebesar 0,60%.
Komoditas yang menghambat laju inflasi adalah daging dan telur ayam ras. Cabai merah, tarif kereta api dan wortel turut menghambat laju inflasi. “Komoditas tersebut mengalami penurunan harga sehingga inflasi bisa ditekan,” lanjutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rahasia Kongo Gumi Bertahan 1.400 Tahun Lebih
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
Advertisement
Ikuti Edaran Pusat, Sleman Kaji WFH ASN dan Efisiensi Energi
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




