Advertisement
KURS RUPIAH : 2 Perusahaan Asing Kolaps
Advertisement
Kurs rupiah yang melemah mempengaruhi dua perusahaan asing di Bantul.
Harianjogja.com, BANTUL-Dua perusahaan asing di Bantul kolaps. Kedua perusahaan itu, PT Zamrud Javateak dan PT Digitone, menyatakan diri bangkrut setelah terimbas melemahnya perekonomian global.
Advertisement
Kepala Bidang Penanaman Modal Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Penanaman Modal (Disperindagkop-PM) Bantul Noviarni Nurmades mengaku kaget dengan kolapsnya kedua perusahaan tersebut. Pasalnya, hingga pertengahan 2015, kedua perusahaan tersebut masih ternilai sehat.
PT Zamrud Javateak misalnya. Perusahaaan eksportir furniture itu hingga pertengahan terakhir masih sanggup menyetorkan Laporan Keuangan Penanaman Modal (LKPM) kepada pemerintah kabupaten (Pemkab) Bantul. Begitu pula dengan PT Digitone, yang diakui Noviarni juga masih dalam kondisi yang sehat.
“Bahkan PT Digitone sempat mencari lokasi baru untuk perluasan pabrik mereka,” kata perempuan yang akrab disapa Novi itu saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu (7/10/2015).
Dijelaskannya, PT Zamrud Javateak yang memiliki jumlah tenaga kerja mencapai 80 orang itu menjadi eksportir untuk 3 buyer di Belgia sejak 2005. Diperkirakannya, kondisi perekonomian dunia yang melemah menyebabkan jumlah pesanan ke pihak perusahaan menjadi berkurang.
Sementara untuk PT Digitone, perusahaan produsen tinta yang memiliki karyawan sebanyak 30 orang lebih itu tak mampu bertahan lantaran harga bahan baku yang mengalami lonjakan tajam. Dijelaskannya, harga bahan baku mereka beli dengan menggunakan kurs mata uang Dollar. “Sedangkan mereka menjual produknya dengan kurs mata uang Rupiah,” katanya,
Terkait nasib karyawan, dikatakannya, seluruh karyawan PT Zamrud Javateak saat ini sudah terserap di perusahaan yang lain. Sedangkan untuk PT Digitone, hingga kini pihaknya belum bisa menjalin komunikasi dengan intens. “Rencananya besok [hari ini], kami akan ke sana,” katanya.
Dijelaskannya, hingga kini, di Bantul setidaknya ada sekitar 47 perusahaan asing dengan nilai investasi miliaran rupiah yang berlokasi di beberapa titik. Dikatakan Novi, nilai investasi terbesar masih dipegang oleh PT Dong Young Tress Indonesia. Pabrik wig itu menanamkan investasinya di Bantul hingga mencapai Rp106 miliar.
Terpisah, Kepala Seksi Hubungan Industrial danTenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Bantul Anursina mengatakan dari kedua perusahaan itu, memang baru PT Zamrud Javateak saja yang sudah melaporkan kondisinya yang telah kolaps. Dikatakannya, paska-kolaps, pihak PT Zamrud Javateak sudah memenuhi semua kewajibannya sebagai perusahaan.
“Mereka sudah memberikan uang pesangon sesuai peraturan yang berlaku,” kata perempuan yang akrab disapa Ana itu.
Sementara terkait dengan kabar kolapsnya PT Digitone, ia mengaku belum mendapatkan laporan secara tertulis. Untuk itu, dalam waktu dekat pihaknya akan segera melakukan pemantauan dan menjalin komuikasi dengan pabrik yang sudah berdiri sejak tahun 2000 itu. “Pemantauannya lebih pada nasib tenaga kerjanya,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rahasia Kongo Gumi Bertahan 1.400 Tahun Lebih
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
Advertisement
Belanja Pegawai Bantul Tembus 34 Persen Rekrutmen Dipangkas
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




