Advertisement
Naikkan Nilai Jual, Suminah Sulap Karung Goni Jadi Tas Modis
Advertisement
"Sejak itu, tas saya banyak diminati"
Harianjogja.com, JOGJA-Karung goni umumnya digunakan sebagai tempat menampung hasil pertanian atau perkebunan. Setelah dipakai, karung ini tidak banyak dimanfaatkan orang. Namun, di tangan sepasang suami istri, Suminah Yuliatin dan Sunardi, kain kasar ini disulap menjadi berbagai desain tas.
Advertisement
"Ide awal kami tahun 2014 lalu. Sebelumnya kami membuat tas berbahan vinil, tetapi karena banyak yang buat, kami coba mencari alternatif bahan. Lalu ketemu karung goni," ujar Suminah saat ditemui Harian Jogja, Jumat (15/12/2017).
Setelah dipakai untuk mengemas hasil pertanian dan perkebunan, biasanya karung goni akan ditumpuk begitu saja di pasar dan dijual dengan harga murah. Banyaknya bahan baku ini, coba dimanfaatkan Suminah dan suami untuk diolah kembali. Suminah mengaku mendapatkan karung-karung goni di Pasar Beringharjo. Untuk mengolah karung atau kain goni menjadi tas tidak mudah dan harus melalui serangkaian proses yang panjang.
"Prosesnya lama. Harus dicuci, diberi lapisan, dipres supaya kainnya jadi lebih mudah dibuat tas. Pertama kami membuat jenis tote bag, lalu seiring waktu permintaan dibuat ransel hingga tas make up," ungkap Suminah.
Diakui Suminah bukan hanya sulit dalam mengolah karung goni menjadi tas. Namun, kali pertama memasarkan produk yang dilabeli dengan nama Sambeliler Bag Cocoa ini juga tidak mudah. Saat mengikuti pameran yang digelar di Pasar Malam Perayaan Sekaten, Suminah mengaku tak satupun produknya dilirik pengunjung. Namun, tak patah semangat, berbagai pameran terus diikuti Suminah.
"Sampai akhirnya ada dari toko oleh-oleh di Malioboro, Hamzah Batik yang meminta tas goni ini dipasok ke toko itu. Sejak itu, tas saya banyak diminati, dari memasok enam buah, lalu terus bertambah," papar Suminah.
Kini dalam dua pekan, Suminah dan Sunardi mampu memproduksi hingga lebih dari 50 buah tas goni aneka model di rumah di Prawirodirjan, Jogja. Harga jual tas ini dipatok mulai dari Rp175.000 hingga Rp250.000, dengan omzet per bulan rerata Rp8 juta sampai Rp10 juta.
Tas ini sudah banyak dikirim ke sjumlah daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung hingga Bali. Pemesanan rutin tas goni ini banyak diminta dari Malang dan paling laku jenis tote bag. Semakin banyaknya permintaan, diakui Suminah, membuat kewalahan karena belum bisa memiliki tenaga tambahan untuk mengerjakan pesanan tas goni. "Sulit cari tenaga, karena tas goni ini selain tebal dan kasar, juga biasanya berdebu. Tidak mudah memprosesnya," imbuh Suminah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rahasia Kongo Gumi Bertahan 1.400 Tahun Lebih
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
Advertisement
Tangis Pecah Saat Jenazah Prajurit TNI Tiba di Kulonprogo
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




