BPS Jelaskan Arti Desil 1-10 dalam DTSEN, Ini Kriterianya
BPS menjelaskan arti desil 1-10 dalam DTSEN, indikator yang digunakan, serta alasan desil bukan penentu tunggal penerima bansos.
Kapal kargo melakukan bongkar muat di terminal petikemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (25/4/2018)./Bisnis Indonesia
Harianjogja.com, JAKARTA—Tren pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencapai 6,05% sepanjang tahun ini. Situasi ini memberikan dampak negatif dan positif. Bagi pelaku ekspor, sebenarnya situasi ini laiknya bonus. Kendati demikian situasi tersebut tidak berjalan dalam tataran ideal.
Salah satu penyebab adalah ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor dan kinerja ekspor yang masih mengandalkan komoditas mentah membuat performa ekspor menjadi tak maksimal.
Mayoritas komoditas ekspor andalan di Tanah Air memang mencatatkan kenaikan ekspor sepanjang Januari-Mei tahun ini, tetapi tidak signifikan jika mempertimbangkan adanya faktor pelemahan rupiah.
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan sektor manufaktur didera problem ketergantungan bahan baku impor yang cukup tinggi. Alhasil, ketika rupiah melemah, biaya impor bahan baku menjadi lebih tinggi, sehingga menekan para pelaku industri.
“Kalau kita lihat, dengan impor kita yang masih besar, pelemahan rupiah ini justru menjadi tsunami kecil bagi sektor manufaktur, bahkan manufaktur yang berbasis ekspor sekalipun,” ujar Enny.
Dia juga menilai kenaikan nilai ekspor sejumlah komoditas ekspor utama yang tidak terlalu signifikan dan diiringi oleh penurunan permintaan di negara tujuan lebih disebabkan oleh tren di pasar internasional.
“Nilai ekspor memang tumbuh moderat, tetapi volumenya tetap atau paling tumbuh tipis. Pasalnya, yang memengaruhi adalah kondisi permintaan global, bukan nilai tukar rupiah,” ujarnya.
Selama permintaan secara global masih melempem, dia menilai aktivitas ekspor tidak akan mengalami perubahan.
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Shinta W. Kamdani mengatakan sekalipun ada beberapa industri berbasis ekspor yang diuntungkan dari depresiasi rupiah, masih banyak lini industri yang gagal memanfaatkannya untuk mendorong ekspor.
“Industri manufaktur yang paling diuntungkan adalah yang menggunakan bahan baku dalam negeri dan tidak menggunakan bahan baku impor dan tentu saja ini sangat terbatas.”
Belum lagi, daya saing komoditas ekspor andalan Indonesia masih kalah dengan negara tetangga. Masih banyaknya rencana kerja sama perdagangan internasional yang tertunda juga membuat komoditas ekspor potensial sulit berkembang.
Selain itu, ketergantungan ekspor Indonesia terhadap komoditas mentah juga masih tinggi. Alhasil, ketika harga komoditas rendah, kontribusi ekspor dari sektor tersebut juga rendah.
Sejumlah pelaku usaha di sektor tersebut juga sepakat bahwa momentum pelemahan rupiah memang tidak dimanfaatkan secara maksimal. Alhasil, nilai ekspor tidak meningkat signifikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis Indonesia
BPS menjelaskan arti desil 1-10 dalam DTSEN, indikator yang digunakan, serta alasan desil bukan penentu tunggal penerima bansos.
Anak Kampung Sadang, Bandung Barat, menyeberangi Waduk Saguling dengan rakit untuk sekolah. Warga berharap akses jembatan segera dibangun.
Kemnaker menyiapkan strategi triple skilling berupa upskilling, reskilling, dan cross-skilling untuk menghadapi perubahan dunia kerja akibat AI.
Job fair disabilitas Kulonprogo mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan. Riski dan Arif berbagi perjuangan mencari pekerjaan inklusif.
Pembangunan inklusif di Indonesia disoroti. Ohana Indonesia mendesak reformasi anggaran dan pemenuhan hak kelompok difabel.
Redaksi kembali menghadirkan rangkuman Top Ten News Harianjogja.com edisi Sabtu (29/8/2026) yang merangkum isu paling hangat dan strategis