Beberapa Hotel di Jogja Terpaksa Libur Beroperasi Sementara Waktu

Beberapa Hotel di Jogja Terpaksa Libur Beroperasi Sementara WaktuIlustrasi hotel - JIBI
03 April 2020 13:27 WIB Kusnul Isti Qomah & Ipak Ayu H.N Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penyebaran virus Corona (Covid-19) sangat berdampak pada bisnis perhotelan. Tamu semakin berkurang sehingga ada beberapa hotel yang memutuskan untuk menghentikan sementara operasionalnya. 

Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono mengakui sudah banyak hotel yang berhenti operasional sementara. Selain karena tidak ada tamu, alasan lain untuk mengamankan karyawan dan tamu agar tidak tertular Covid-19. "Terutama yang okupansinya nol-sembilan persen. Tetapi masih ada yang tetap buka dengan paket 14 hari stay sesuai protokol pencegahan Covid-19 dan delivery makanan bagi restorannya," kata dia, Selasa (31/3).

Deddy menyebutkan 60% anggota PHRI berupa hotel bintang, nonbintang, dan restoran memilih untuk tutup sementara. "Sebanyak 60 persen dari 496 hotel bintang, nonbintang, dan restoran di DIY," jelas dia.

Salah satu hotel yang berhenti operasi sementara yakni Citradream di Jetis, Jogja. Dies Gupitasari Yogyaswara, Sales Executive Hotel Citradream mengatakan kantor pusat Citradream memutuskan untuk menghentikan operasional hotel sementara waktu. Baik Citradream di Jogja, Bandung, Semarang, Cirebon, maupun Bintaro berhenti operasi sementara pada 30 Maret-30 April 2020

"Semua staf diliburkan tetapi masih tetap mendapatkan gaji pokok. Toh keputusan penutupan sementara ini juga mempertimbangan keselamatan dan keamanan staf dan juga tamu-tamu yang menginap dan juga sekaligus turut membantu untuk mengurangi penyebaran virus itu lebih luas lagi," kata dia.

 Imbas Cukup

Dampak Covid-19 juga dirasakan Royal Ambarrukmo Yogyakarta. Khairul Anwar, Marketing & Communications Manager Royal Ambarrukmo Yogyakarta mengatakan dirasakan imbas yang cukup signifikan pada Maret dan April ini. Seluruh kegiatan pertemuan, konferensi  dan juga acara pada dua bulan yang digadang-gadang selalu menjadi puncak di 2020 karena jelang Ramadan, diundur hingga akhir Mei ke depan.

Mengenai tingkat keterisian kamar, Royal Ambarrukmo masih mendapatkan permintaan tamu yang menginap, kurang lebih 10% secara rerata dari 247 kamar. "Penghematan energi tentunya dilakukan untuk menekan pengeluaran operasional. Sedangkan pegawai tentunya disesuaikan jadwal masuknya, sembari menyelesaikan sisa cuti yang masih ada dan mengindahkan imbauan pemerintah untuk mengurangi bepergian ke luar rumah," kata dia.

Tindakan preventif pada pandemi ini telah dilakukan oleh Royal Ambarrukmo semenjak pertengahan Januari lalu, dengan prosedur thermal gun scan kepada setiap tamu yang memasuki lobi serta seluruh karyawan yang aktif masuk bekerja. Hand sanitizer juga disediakan di setiap area publik, seperti lobi, kids club, restoran, Punika Deli, dan setiap kamar kecil umum di lantai dasar.

"Kegiatan perawatan bangunan cagar budaya hotel dan kompleks Kedaton Ambarrukmo tidak terlepas dari rutinitas yang tetap terjaga, sehingga pada saatnya nanti kondisi pulih sempurna, kami siap menjadi jujugan tamu dengan optimal. Saat ini Royal Ambarrukmo juga memberikan promosi antar makanan bagi outlet Punika Deli dan SamaZana," kata dia.

Turunnya tamu menginap juga dialami Hotel Tentrem. Adventa Pramushanti, Public Relations Manager Hotel Tentrem Yogyakarta mengaku hotel masih beroperasi dan belum ada wacana untuk menghentikan operasional hotel.  "Tidak dipungkiri, pandemi ini benar-benar jadi pukulan yang berat untuk industri pariwisata, termasuk kami. Kalau ngomongin bisnis dan kerugian, sudah pasti banyak. Saat ini kami udah enggak ke sana fokusnya. Tetapi menjaga keselamatan dan kesehatan staf," kata dia.

Ia mengatakan okupansi terjun bebas. Biasanya bulan-bulan ini okupansi 70%-80%. Namun, karena pandemi ini bisa mencapai 20% pun sudah bagus. 

Rumah Tangga

Minimnya operasional hotel dan restoran membuat pemasok bahan pangan seperti sayuran pun turun drastis. Pemilik Sayursegar Alfonsa Novena Valencia Viani Sigit mengaku suplai ke hotel dan restoran mengalami penurunan hingga 80%. "Karena mungkin kesadaran orang lebih milih masak di rumah daripada keluar untuk sekadar beli makan," jelas dia, Rabu (1/4).

Sebaliknya, pesanan untuk kebutuhan rumah tangga mengalami kenaikan drastis. Kenaikan pesanan bisa mencapai 80%. "Karena ada pandemi ini banyak yang memilih memasak di rumah," kata dia.

 

Ratusan Hotel

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Haryadi Sukamdani mengkonfirmasi saat ini pelaku industri sangat terpukul dengan keberlangsungan Covid-19. Pasalnya, krisis Covid-19 sudah sangat parah terjadi. 

Menurutnya, paling penting yang harus menjadi fokus saat ini adalah pemulihan kondisi dari wabah covid-19. Pasalnya, data korban yang meninggal di Indonesia lebih tinggi dibanding yang sembuh sangat mengkhawatirkan untuk semuanya.

"Jadi masalahnya kan virus itu sendiri, kalau tidak bisa dikendalikan kita bisa apa. Sekarang Hotel yang sudah lapor tutup saja 698 lalu di industri lain juga banyak mengeluh karena rame batal order, mall sepi dan lain sebagainya," katanya kepada JIBI, Rabu (1/4).

Alhasil, menurut Hariyadi kuartal II/2020 ini nantinya akan menjadi puncak tekanan pada industri. Dia juga menyayangkan pemerintah yang masih berantakan dalam koordinasi penangan Covid-19 ini.

Hariyadi menambahkan padahal banyak masalah yang mesti diselesaikan seperti fasilitas kesehatan tidak memadai dan tidak ada penegasan kebijakan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.