Orang Kaya Lebih Pilih Bank Konvensional daripada Syariah, Ini Alasannya

Orang Kaya Lebih Pilih Bank Konvensional daripada Syariah, Ini AlasannyaFoto ilustrasi orang kaya menyimpan uang di bank. - JIBI/Bisnis Indonesia
01 Januari 2022 08:07 WIB Wibi Pangestu Pratama Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Center of Reform on Economics atau Core Indonesia menilai terdapat kecenderungan orang-orang berpenghasilan tinggi atau orang kaya lebih memilih menyimpan dananya di bank konvensional daripada syariah. Masyarakat cenderung rasional dalam menentukan strategi finansialnya.

Ekonom Core Indonesia Ebi Junaedi menjelaskan berdasarkan riset Bank Indonesia, jumlah penabung rasional sangat besar. Mereka akan membandingkan berapa potensi pendapatan melalui bunga atau bagi hasil antara bank konvensional dan syariah, kemudian memilih yang tertinggi.

Hal tersebut menjadi salah satu faktor penyebab adanya jarak antara jumlah rekening dan dana pihak ketiga di perbankan syariah terhadap total industri perbankan secara nasional. Ebi menilai masyarakat berpenghasilan tinggi cenderung lebih memilih bank konvensional.

"Total jumlah rekening bank syariah itu 40,5 juta, konvensional 310 juta. Rekening bank syariah itu 12 persen dari total rekening perbankan tetap share-nya hanya 6,4 persen, berarti orang rata-rata jumlah tabungan di bank syariah lebih kecil daripada di bank konvensional," ujar Ebi belum lama ini.

Menurutnya, orang-orang kaya akan menentukan strategi pengelolaan keuangan yang ketat agar asetnya dapat terus berkembang. Oleh karena itu, tawaran bunga bank konvensional yang cukup tinggi membuatnya lebih menarik daripada bank syariah.

Ebi menyatakan penilaian itu terlepas dari latar belakang atau preferensi kepercayaan seseorang terhadap bank syariah. Tetapi, dari kacamata pelaksanaan bisnis, bank syariah memang memiliki sejumlah tantangan sehingga penawaran imbal hasilnya relatif lebih rendah.

"Return bank syariah belum competitive dan kepastiannya belum setinggi bank konvensional. Ada isu pula service [terhadap nasabah] belum apple-to-apple [dengan bank konvensional]. Hal tersebut perlu menjadi catatan," ujar Ebi.

Sumber : JIBI/Bisnis.com