Advertisement
Rekomendasi Pakar untuk Siasati Harga Beras Mahal
Ilustrasi beras di pasar tradisional. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Beras menjadi salah satu komoditas pangan yang harganya masih tinggi saat ini. Dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian UMY, Oki Wijaya menyarankan untuk mengatasi kenaikan harga beras yang disebabkan oleh perubahan iklim memerlukan strategi dari semua pihak. Pemerintah, sektor pertanian, hingga konsumen.
Beberapa langkah yang bisa diambil seperti mengembangkan dan menggunakan varietas padi yang tahan pada cuaca ekstrem seperti kekeringan, banjir, dan suhu tinggi. Varietas yang tahan terhadap stres abiotik dan biotik dapat membantu memastikan stabilitas produksi padi, bahkan dalam kondisi iklim yang berubah.
BACA JUGA : Relaksasi HET Diperpanjang, Harga Beras Premium Bisa Semakin Meroket
Advertisement
"Kemudian memanfaatkan teknologi pertanian modern seperti hidroponik untuk budidaya padi atau penggunaan drone dan sistem informasi geografis [GIS] untuk pemantauan dan manajemen lahan. Membantu meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nutrisi serta pengelolaan hama dan penyakit tanaman," katanya, Sabtu (23/03/2024).
Selain itu pentingnya melakukan manajemen risiko dan asuransi pertanian. Sehingga petani bisa terlindungi dari kerugian akibat perubahan iklim, seperti kekeringan atau banjir. "Hal ini dapat memberikan keamanan finansial bagi petani dan mendorong mereka untuk terus bertani meskipun menghadapi risiko iklim yang tinggi," ungkapnya.
Langkah lainnya dengan membangun dan mengelola stok pangan strategis yang dapat digunakan untuk menstabilkan harga beras di pasar. Stok ini dapat dipergunakan ketika terjadi gagal panen atau produksi beras berkurang akibat dampak perubahan iklim.
Dari sisi konsumen bisa mengoptimalkan program diversifikasi pangan. Ini menjadi strategi mengatasi kenaikan harga beras dan tantangan keamanan pangan, terutama di negara-negara yang sangat bergantung pada beras sebagai sumber karbohidrat utama, seperti Indonesia.
BACA JUGA : Harga Beras Bakal Turun Bulan Depan, Jokowi Ingin Petani dan Konsumen Sama-sama Untung
"Diversifikasi pangan tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan pada satu jenis pangan saja tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dengan memperluas basis pangan yang tersedia," lanjutnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Ibrahim menyampaikan untuk mengatasi tingginya harga beras saat ini, BI DIY bersama dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota menyelenggarakan gerakan operasi pangan murah Stabilisasi Pasokan Harga Pasar (SPHP) dan Gerakan Pangan Murah (GPN). "Perkiraan kami ini juga sudah mulai panen. Harapan kami harga beras akan stabil," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rahasia Kongo Gumi Bertahan 1.400 Tahun Lebih
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
Advertisement
Jadwal Terbaru KA Prameks Jogja-Kutoarjo, Minggu 5 April 2026
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








