Advertisement
Waspada Inflasi, BPS Kota Jogja Pantau Dampak Perang Terhadap Emas
Pertumbuhan ekonomi ilustrasi. - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA–Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah kini mulai membayangi stabilitas ekonomi domestik, terutama terkait dengan potensi lonjakan harga komoditas strategis. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja menaruh perhatian serius terhadap pergerakan harga emas perhiasan hingga bahan bakar minyak (BBM) yang diprediksi bakal terdampak langsung oleh situasi geopolitik global tersebut.
Kepala BPS Kota Jogja, Joko Prayitno, mengungkapkan bahwa emas perhiasan telah menempati jajaran lima besar komoditas utama penyumbang inflasi pada Februari 2026.
Advertisement
Berdasarkan catatan statistik, andil inflasi emas secara month to month (mtm) mencapai 0,28%, sedangkan jika dibandingkan secara year on year (yoy), kontribusinya tercatat sangat signifikan hingga menyentuh angka 1,58%.
“Emas ini bukan sekadar dipengaruhi pola konsumsi masyarakat. Ada faktor global yang sangat kuat. Harga emas dunia memang sedang naik, sehingga otomatis berpengaruh juga di dalam negeri,” ujar Joko saat memberikan keterangan pada Selasa (3/3/2026).
BACA JUGA
Ia menambahkan bahwa dinamika pasar internasional yang tidak menentu mendorong investor beralih ke emas sebagai aset lindung nilai (safe haven), yang memicu harga semakin terdongkrak.
Kekhawatiran tidak hanya berhenti pada logam mulia, namun juga merambah ke sektor energi karena adanya ancaman terhadap jalur distribusi minyak dunia.
Menurut Joko, gangguan pada produksi global akan berimplikasi pada harga minyak dunia yang kemudian menyeret kenaikan harga BBM di dalam negeri. “Minyak sangat mungkin terdampak. Karena kita mengambil dari pasar global, maka ketika harga dunia naik, di dalam negeri juga ikut terdampak,” jelasnya.
Memasuki awal Maret 2026, sinyal kenaikan harga BBM nonsubsidi sudah mulai terlihat dan berpotensi menjadi penyumbang utama angka inflasi pada bulan berjalan.
Guna memitigasi risiko tersebut, BPS mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja untuk mengoptimalkan kendali pada komoditas yang masih bisa diintervensi, seperti beras, cabai, dan bawang, melalui operasi pasar serta penguatan stok pangan daerah.
Meski demikian, Joko mengakui bahwa pemerintah daerah memiliki keterbatasan dalam mengendalikan komoditas yang sangat bergantung pada kebijakan pusat dan faktor eksternal internasional. “Pemerintah daerah masih bisa memastikan ketersediaan stok untuk komoditas yang bisa dikendalikan. Tapi untuk emas atau harga tiket pesawat, itu sangat tergantung faktor luar,” katanya sembari menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap fluktuasi harga energi dan emas yang sangat dinamis di pasar global saat ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- KAI Prediksi Puncak Arus Balik Kereta Api Mulai Terjadi Minggu Ini
- Komisaris Tinjau Kesiapan PLN di Masjid Raya Baiturrahman Semarang
- Puncak Arus Mudik, Kementerian ESDM dan PLN Cek Operasional SPKLU
Advertisement
Produksi Sampah di Bantul Naik 8 Persen Selama Libur Lebaran
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Jalur Selat Hormuz Terganggu, Produksi Minyak Kuwait Anjlok Drastis
- MBG Disorot Akademisi UGM, Muncul Usulan Pangkas Jumlah Penerima
- Krisis Energi, Purbaya: APBN Belum Diubah, Masih Aman
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Lonjakan Arus Balik, InJourney Airports Siapkan Ribuan Extra Flight
- Harga Emas Pegadaian Naik Hari Ini 26 Maret, UBS Tembus Rp2,86 Juta
Advertisement
Advertisement






