Advertisement
Perang Iran-Israel Memanas, Begini Nasib Pariwisata di Jogja
Wisatawan memadati kawasan Jalan Malioboro, Jogja, pada masa Libur Nataru. - Harian Jogja - Gigih M Hanafi
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Eskalasi konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran hingga kini terpantau belum memberikan hantaman langsung terhadap sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Meski situasi geopolitik di Timur Tengah terus memanas, aktivitas kunjungan wisatawan di berbagai destinasi unggulan Jogja masih berjalan normal tanpa adanya gangguan berarti.
Advertisement
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ditemukan adanya fenomena pembatalan reservasi hotel secara massal dari para calon pelancong.
Hal ini disebabkan oleh belum adanya jadwal reservasi dalam volume besar yang masuk ke database anggota PHRI DIY untuk periode waktu dekat, sehingga fluktuasi di mancanegara tidak langsung mengubah peta okupansi kamar.
BACA JUGA
Deddy menaruh harapan besar agar ketegangan di wilayah tersebut segera mereda lantaran efek domino dari perang ini bisa mengancam pasar wisatawan asal Eropa dan Timur Tengah.
"Dampak lainnya adalah stabilitas ekonomi dunia yang ini menjadi momok besar bagi kami," tutur Deddy dalam keterangannya di Yogyakarta, Rabu (4/3/2026).
Senada dengan PHRI, Humas DPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY, Iwan Sulistyanto, menilai dampak langsung terhadap pergerakan turis memang belum signifikan.
Namun, pihaknya menaruh perhatian khusus pada potensi gangguan tidak langsung bagi wisatawan mancanegara (wisman) jarak jauh, mengingat jalur penerbangan dari Eropa mayoritas menggunakan bandara transit atau hub di kawasan Timur Tengah.
Iwan memaparkan bahwa ada beberapa risiko teknis yang menghantui pasar Eropa, mulai dari pengalihan rute penerbangan yang memicu pembengkakan biaya perjalanan hingga kenaikan harga tiket akibat lonjakan premi asuransi dan harga energi.
Sikap wait and see dari turis Eropa juga menjadi perhatian serius, sebab kawasan ini merupakan kontributor utama bagi sektor wisata budaya, heritage, dan long stay tourism di wilayah DIY.
Guna membentengi pariwisata Jogja dari kelesuan ekonomi global, Asita DIY mulai mendorong langkah strategis dengan memperkuat segmen pasar domestik serta regional di lingkup ASEAN dan Asia Pasifik sebagai penyangga utama.
Komunikasi aktif dengan para agen perjalanan di luar negeri terus dijaga untuk meyakinkan dunia internasional bahwa kondisi Indonesia, khususnya DIY, tetap sangat aman dan kondusif untuk dikunjungi.
Selain optimalisasi promosi digital, koordinasi lintas sektoral dengan pemerintah daerah juga terus diperkuat guna menjaga citra destinasi agar tetap resilien di tengah tantangan dunia.
Di sisi lain, sektor transportasi darat yang dikelola PT KAI Daop 6 Yogyakarta menyatakan perjalanan kereta api tetap beroperasi secara normal tanpa terpengaruh dinamika di Timur Tengah, sehingga arus mobilitas wisatawan di dalam negeri masih terjaga dengan baik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Libur Lebaran, Mas Marrel Minta Wisatawan Ikut Jaga Kebersihan Jogja
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Konflik AS-Iran Ancam Harga Minyak, Tekan Fiskal Indonesia
- Restrukturisasi TikTok AS Disebut Libatkan Biaya Rp170 Triliun
- Saham Meta Turun 23 Persen, Isu PHK 20 Persen Karyawan Mencuat
- Bapanas Pastikan Stok Pangan Aman Jelang Lebaran 2026
- Pendapatan AirAsia Indonesia 2025 Tembus Rp7,87 Triliun
- Antisipasi Mudik, Pertamina Tambah LPG 3 Kg di Jateng-DIY
Advertisement
Advertisement






