Advertisement
Konflik Timur Tengah Mereda, Wall Street Kompak Parkir di Zona Hijau
Foto ilustrasi. Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO - Sigid Kurniawan
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA — Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Jumat (10/4/2026). Performa positif ini dipicu oleh meredanya kekhawatiran investor terhadap konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung selama kurang lebih enam pekan terakhir.
Reutes melaporkan, detiga indeks utama Wall Street kompak mencatat kenaikan signifikan seusai Israel menunjukkan upaya pembukaan jalur dialog dengan Lebanon. Langkah ini memicu harapan baru bagi pelaku pasar akan adanya penyelesaian damai di kawasan tersebut.
Advertisement
Rapor Hijau Indeks Utama
Pada penutupan perdagangan, kekuatan pasar tercermin dari kenaikan di seluruh sektor indeks utama:
BACA JUGA
- Dow Jones Industrial Average: Menguat 0,58% ke level 48.185,80.
- S&P 500: Naik 0,62% ke posisi 6.824,66.
- Nasdaq Composite: Bertambah 0,83% ke level 22.822,42.
Senior Vice President Wealthspire Advisors, Oliver Pursche, menilai pelaku pasar kini mulai melihat dinamika geopolitik dengan lebih rasional. Seusai mencermati situasi, investor harus memutuskan untuk tetap bertahan atau mengambil keuntungan dari momentum yang ada.
Indikator Teknikal dan Makroekonomi
Dalam dua sesi terakhir, indeks S&P 500 kembali bergerak di atas rata-rata pergerakan 100 hari dan 200 hari. Capaian ini menjadi indikator teknikal penting yang menunjukkan tren penguatan jangka panjang. Sejalan dengan itu, indeks volatilitas CBOE (VIX) atau "indikator ketakutan" merosot ke level terendah sejak awal konflik pecah.
Dari sisi makroekonomi, Departemen Perdagangan AS melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 yang lebih lambat dari prakiraan semula. Di sisi lain, inflasi yang tercermin dari indikator pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) masih menunjukkan adanya tekanan harga yang persisten.
Statistik Perdagangan
Secara keseluruhan, jumlah saham yang menguat mendominasi pasar dengan rasio 1,99 banding 1 di Bursa Efek New York (NYSE). Di bursa Nasdaq, tercatat 2.651 saham naik dibandingkan 2.029 saham yang turun.
Meskipun bergairah, volume transaksi di bursa AS tercatat mencapai 17 miliar saham. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata harian 20 hari terakhir yang berada di level 19,38 miliar saham. Seusai penutupan pekan ini, fokus investor diprediksi akan beralih pada rilis kebijakan moneter terbaru di tengah data inflasi yang masih membayangi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Konflik Timur Tengah Mereda, Wall Street Kompak Parkir di Zona Hijau
- Harga Emas Antam 8 April Melonjak Tajam, Nyaris Sentuh Tiga Juta
- Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ini Rencana Bank Indonesia
- Harga Emas Antam Melonjak, Tembus Rp2,85 Juta per Gram
- Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026
Advertisement
Kasus Keracunan MBG di Bantul, Dua Dapur Dihentikan Sementara
Advertisement
Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten
Advertisement
Berita Populer
- Rangkaian Poin Penting dari Peresmian Pabrik Listrik di Magelang
- Harga Kedelai Naik Perajin Tempe Dorong Produksi Kedelai Lokal
- Prabowo Gagas Pusat Avtur dari Sawit dan Jelantah
- Guru Besar UMY: Defisit APBN Melebar Kebijakan BBM Masuk Zona Risiko
- OJK DIY Soroti Kesenjangan Literasi dan Akses Keuangan Syariah
- Harga Minyak Dunia Turun, Dampak ke BBM dan APBN Terasa
- Harga Emas Hari Ini Anjlok, UBS, Antam, dan Galeri24 Kompak Turun
Advertisement
Advertisement







