Advertisement
Kapal Pertamina Nyantol di Selat Hormuz, Klaim Asuransi Belum Diajukan
Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Dua kapal tanker milik Pertamina masih tertahan di kawasan Timur Tengah hingga Sabtu (11/4/2026), namun belum ada klaim asuransi yang diajukan terkait kondisi tersebut. Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya risiko pelayaran akibat konflik di wilayah tersebut.
PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance) sebagai penyedia asuransi menyatakan hingga kini belum menerima laporan klaim dari dua kapal yang terdampak di Selat Hormuz.
Advertisement
Presiden Direktur Tugu Insurance Adi Pramana mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk memantau perkembangan situasi.
“Kami selalu berkoordinasi dengan Pertamina kondisi situasinya seperti apa. Semoga (kapal-kapal) ini bisa cepat kembali,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.
BACA JUGA
Ia mengungkapkan meningkatnya tensi di kawasan Timur Tengah berdampak pada risiko pelayaran, sehingga premi asuransi turut mengalami penyesuaian.
“Untuk perang ini ya pasti ada sedikit peningkatan risiko, jadi ada sedikit penambahan premi. Kami benar-benar support (mendukung) pemerintah full effort (dengan segala upaya) untuk membawa kapal tersebut kembali ke Indonesia,” kata Adi.
Direktur Teknik Tugu Insurance Fadlil Iswahyudi menjelaskan bahwa skema asuransi yang diberikan hanya mencakup kerusakan fisik kapal akibat serangan, seperti drone, bom, atau torpedo.
Sementara itu, keterlambatan pengiriman atau tertahannya kapal tidak termasuk dalam cakupan klaim asuransi.
“Basically (pada dasarnya), perang itu nggak di-cover (tidak mendapatkan klaim), kecuali kalau sampai ada torpedo, drone, atau kena bom,” ujarnya.
Berdasarkan data situs pelacak Vessel Finder per Sabtu pukul 17.58 WIB, dua kapal tanker tersebut masih berada di kawasan Teluk Persia. Kapal Pertamina Pride terdeteksi berada di lepas pantai Al Jubail, Arab Saudi, sementara Kapal Gamsunoro berada di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah masih terus melakukan komunikasi dengan berbagai pihak untuk mencari solusi.
Ia berharap adanya jeda eskalasi konflik selama dua pekan di kawasan Timur Tengah dapat dimanfaatkan untuk mempercepat penyelesaian persoalan tersebut.
"Dengan adanya jeda dua minggu dari pada eskalasi di Timur Tengah, mudah-mudahan bisa cepat selesai," kata Bahlil.
Situasi ini menunjukkan dampak langsung konflik geopolitik terhadap distribusi energi, sekaligus menambah tekanan pada jalur pelayaran strategis dunia seperti Selat Hormuz.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Harga Emas Antam Sabtu 11 April Naik Tipis, Cek di Sini
- Konflik Timur Tengah Mereda, Wall Street Kompak Parkir di Zona Hijau
- Harga Emas Antam 8 April Melonjak Tajam, Nyaris Sentuh Tiga Juta
- Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ini Rencana Bank Indonesia
- Harga Emas Antam Melonjak, Tembus Rp2,85 Juta per Gram
Advertisement
Advertisement
Di Balik Pegunungan Taihang China Berdiri Menara Kembar Memikat
Advertisement
Berita Populer
- Transformasi Digital JNE Berbuah Penghargaan Nasional
- Harga Emas Antam Sabtu 11 April Naik Tipis, Cek di Sini
- Pakar UMY: Konflik Global Tekan Ekspor, Industri Manufaktur Terancam
- Volume Penumpang KAI Daop 6 Jogja Tumbuh 8 Persen di Triwulan I
- Uni Eropa Bergantung ke China untuk Bahan Baku Utama Industri
- Harga Cabai Rawit Tembus Rp83 Ribu Hari Ini
- Kondisi Global Bergejolak, Seskab Teddy: Kondisi Nasional Tetap Stabil
Advertisement
Advertisement






