Kadin DIY Kenang Soliditas Pemulihan 20 Tahun Gempa Jogja
Kadin DIY mengenang 20 tahun Gempa Jogja 2006 dengan menyoroti gotong royong lintas sektor dalam pemulihan pascabencana.
Pertumbuhan ekonomi ilustrasi./Freepik
Harianjogja.com, JOGJA — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi diperkirakan akan memberikan dampak terhadap inflasi di Daerah Istimewa Jogja (DIY), meski dalam skala terbatas. Ekonom dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Nano Prawoto, menilai tekanan inflasi yang muncul cenderung moderat dan tidak berlangsung secara langsung.
Nano memperkirakan inflasi DIY yang sebelumnya berada di angka 4,08% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret 2026 berpotensi naik menjadi kisaran 4,28% hingga 4,58%. Meski kenaikannya relatif kecil, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi nasional yang berada di rentang 2,5% hingga 3,5%.
Menurutnya, kenaikan harga BBM non subsidi tidak serta-merta memicu lonjakan harga secara drastis. Hal ini disebabkan sebagian besar pelaku usaha, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), masih menggunakan BBM bersubsidi dalam operasionalnya.
“Dampaknya tetap ada, tetapi sifatnya tidak langsung dan relatif kecil,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Meski demikian, Nano menyoroti adanya efek psikologis pasar yang turut berperan dalam mendorong inflasi. Kenaikan BBM seringkali memicu ekspektasi harga yang lebih tinggi di masa mendatang. Kondisi ini membuat produsen cenderung meningkatkan stok bahan baku maupun barang jadi sebagai langkah antisipasi.
Di sisi lain, konsumen juga terdorong untuk membeli barang dalam jumlah lebih banyak sebelum harga benar-benar naik. Pola perilaku ini, baik dari sisi produsen maupun konsumen, secara tidak langsung turut menekan harga ke atas.
Karakter inflasi di DIY sendiri dinilai memiliki kekhasan tersendiri, terutama karena erat kaitannya dengan sektor pariwisata. Momentum libur panjang, musim liburan sekolah, hingga hari raya kerap menjadi pemicu naiknya permintaan barang dan jasa, khususnya di sektor makanan dan minuman.
Selain itu, sektor lain seperti perawatan pribadi—terutama untuk segmen menengah atas—serta sektor perumahan juga berpotensi terdampak. Kenaikan harga bahan bangunan seperti besi dan semen disebut bisa ikut mendorong tekanan inflasi.
Nano juga menilai bahwa masyarakat tidak serta-merta beralih ke sumber energi yang lebih murah akibat kenaikan BBM non subsidi. Sebaliknya, sebagian besar justru memilih untuk menghemat konsumsi energi, baik dari penggunaan BBM, listrik, maupun gas.
Langkah penghematan ini dilakukan sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi global, termasuk dinamika geopolitik yang turut memengaruhi stabilitas harga energi.
Dengan kondisi tersebut, inflasi di DIY diperkirakan tetap terkendali, meski perlu diantisipasi agar tidak bergerak terlalu jauh di atas rata-rata nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kadin DIY mengenang 20 tahun Gempa Jogja 2006 dengan menyoroti gotong royong lintas sektor dalam pemulihan pascabencana.
Sekda DIY soroti alih fungsi lahan dan pentingnya data dalam kebijakan untuk menjaga ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan.
Instalasi Sunflower Angel di Candi Prambanan viral, hadirkan wisata estetik dan pengalaman seni unik yang diserbu ribuan pengunjung.
BI DIY dan TPID luncurkan MRANTASI PKK 2026 untuk tekan inflasi lewat budidaya cabai dan ketahanan pangan rumah tangga.
Menag dorong kurikulum ekoteologi di pesantren untuk bangun kesadaran cinta alam, manusia, dan Tuhan secara utuh.
Pemerintah siapkan digital single ID berbasis AI untuk bansos lebih tepat sasaran dan kurangi kebocoran anggaran.