Advertisement

Krisis Hormuz Picu Harga Tiket Pesawat Naik, Maskapai Dunia Waspada

Abdul Hamied Razak
Sabtu, 25 April 2026 - 22:17 WIB
Abdul Hamied Razak
Krisis Hormuz Picu Harga Tiket Pesawat Naik, Maskapai Dunia Waspada Foto ilustrasi maskapai penerbangan. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, LONDON — Industri penerbangan global mulai merasakan tekanan serius akibat krisis energi yang dipicu ketegangan di Timur Tengah. Induk maskapai British Airways, yakni International Airlines Group (IAG), mengingatkan potensi kenaikan harga tiket pesawat dalam waktu dekat.

Peringatan tersebut muncul setelah gangguan distribusi minyak dunia akibat ketidakstabilan di kawasan Selat Hormuz. Jalur vital ini diketahui menjadi salah satu rute utama pengiriman energi global, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada harga bahan bakar, termasuk avtur.

Advertisement

Harga Avtur Naik, Maskapai Tertekan

IAG menyebutkan lonjakan harga bahan bakar jet menjadi tantangan utama bagi industri penerbangan saat ini. Meski sejumlah maskapai telah menerapkan strategi lindung nilai (hedging), kenaikan biaya operasional tetap sulit dihindari.

Perusahaan mengakui tidak sepenuhnya kebal terhadap dampak krisis. Jika kondisi berlanjut, beban biaya tersebut berpotensi dialihkan ke konsumen melalui penyesuaian tarif tiket.

“Tekanan biaya bahan bakar meningkat dan ini berisiko memengaruhi harga tiket,” demikian pernyataan resmi perusahaan.

Gangguan Pasokan dan Risiko Pembatalan

Krisis ini dipicu oleh terbatasnya pergerakan kapal tanker minyak yang belum dapat melintasi Selat Hormuz secara normal. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap potensi kekurangan bahan bakar di berbagai negara, termasuk Inggris.

Pemerintah Inggris kini melakukan pemantauan ketat terhadap cadangan bahan bakar nasional. Sebagai langkah antisipasi, otoritas juga melonggarkan regulasi penerbangan di bandara-bandara utama. Maskapai diperbolehkan membatalkan penerbangan tanpa kehilangan slot lepas landas maupun pendaratan jika terjadi kendala pasokan.

Maskapai Waspada, Dampak Bisa Meluas

Sejumlah maskapai, termasuk Jet2, menyatakan operasional mereka masih berjalan normal untuk saat ini. Namun pelaku industri memperingatkan bahwa dampak krisis kemungkinan baru akan terasa dalam beberapa pekan ke depan.

Jika distribusi energi belum kembali stabil, maskapai berpotensi mengurangi frekuensi penerbangan hingga melakukan penyesuaian rute untuk menghemat bahan bakar.

Data Terbaru: Harga Minyak dan Dampak Global

Berdasarkan tren pasar energi global pada April 2026, harga minyak mentah mengalami kenaikan signifikan di tengah ketegangan geopolitik. Kenaikan ini turut mendorong harga avtur yang menjadi komponen biaya terbesar maskapai, mencapai sekitar 25–30% dari total biaya operasional.

Di sisi lain, gangguan di Selat Hormuz berdampak pada sekitar 20% distribusi minyak dunia. Hal ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi krisis energi yang lebih luas.

Pengamat penerbangan menilai, jika situasi tidak segera mereda, dampaknya tidak hanya pada harga tiket, tetapi juga pada stabilitas industri pariwisata global.

Penumpang Diminta Bersiap

Dengan kondisi tersebut, penumpang disarankan untuk memantau perkembangan jadwal penerbangan serta potensi perubahan harga tiket. Fleksibilitas dalam perencanaan perjalanan menjadi kunci di tengah ketidakpastian ini.

Krisis di Selat Hormuz sekali lagi menunjukkan betapa eratnya keterkaitan antara geopolitik, energi, dan industri transportasi global. Jika eskalasi terus berlanjut, lonjakan harga tiket pesawat hampir tidak terelakkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Kasus Daycare Jogja, 53 Anak Alami Kekerasan, Begini Sikap Pemda DIY

Kasus Daycare Jogja, 53 Anak Alami Kekerasan, Begini Sikap Pemda DIY

Jogja
| Sabtu, 25 April 2026, 21:57 WIB

Advertisement

Libur Iduladha 2026 Bisa Jadi 6 Hari

Libur Iduladha 2026 Bisa Jadi 6 Hari

Wisata
| Jum'at, 24 April 2026, 12:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement